BEI Telisik Perjanjian Notes USD300 Juta KIJA

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan dengar pendapat dengan manajemen PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) pada tanggal 9 Juli 2019. Salah satu hal yang dipertanyakan operator bursa itu terkait dengan perjanjian KIJA dan Kreditur Notes senilai USD300 juta.

Hal itu disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Setia di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

“Tentunya itu menjadi pertanyaan, pertama tentang klausul-klausul yang ada saat menerbitkan global bond (Notes USD300 juta) baik itu dokumen resmi, legal dan penjelasan mereka (KIJA),” kata dia.

Dari penelusuran Pasardana.id, dari keterbukaan informasi perseroan pada tanggal 13 September 2016 pada laman BEI di dapat keterangan penerbitan Notes senilai USD200 juta yang akan jatuh tempo 2023. Obligasi bermata uang dollar Amerika Serikat itu diterbitkan oleh anak usahanya Jababeka Internasional.

Dalam keterbukaan itu juga disebutkan, KIJA menawarkan penukaran notes senilai USD260 yang akan jatuh tempo 2019 dengan obligasi baru 2023 berbunga 7,5%.

Namun, dalam keterbukaan informasi KIJA tertanggal 7 Juli 2019 disebutkan, KIJA menilai terjadi perubahan pengendalian berdasarkan syarat dan kondisi notes yang telah diterbitkan perseroan, serta acting in concert atas perubahan manajemen dengan diangkatnya Sugiharto selaku Direktur Utama dan Aries Lima selaku Komisaris dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada tanggal 26 Juni 2019. Pengangkatan kedua orang tersebut berlaku efektif setelah mendapatkan persetujuan kreditur.

Lebih jauh, pengangkatan disetujui oleh sebanyak 52,117% suara RUPST setelah diusulkan PT Imakotama Investido selaku pemegang 6,387% saham perseroan dan Islamic Development Bank selaku pemegang 10,41% saham perseroan.

Rincinya, terjadinya perubahan pengendali perseroan dalam syarat dan kondisi dari notes yang diterbitkan anak usaha perseroan, Jababeka International BV maka berkewajiban untuk memberikan penawaran pembelian kepada para pemegang notes dengan harga pembelian sebesar 101% dari nilai pokok kewajiban senilai USD300 juta.

Dalam keterbukaan ini, juga disebutkan bahwa jika perseroan tidak mampu melaksanakan pembelian tersebut, maka KIJA akan dianggap lalai atau default. Kondisi ini mengakibatkan perseroan berpotensi lalai terhadap masing-masing kreditur lainnya.