Harga SBN Diperdagangan Selasa Kemarin Alami Kenaikan Didorong Menguatnya Rupiah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pada perdagangan kemarin (25/6), harga Surat Berharga Negara (SBN) mengalami kenaikan yang didorong oleh menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat sentimen yang berasal dari domestik maupun global.

Dalam riset yang dirilis Rabu (26/6/2019), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, perubahan harga Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan kemarin (25/6), bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan ditengah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Asal tahu saja, kemarin (25/6), nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup menguat sebesar 19,00 pts (0,13%) di posisi 14125,00 per dollar Amerika yang bergerak menguat selama sesi perdagangan.

“Penguatan harga Surat Utang Negara ini juga diakibatkan dari adanya beberapa sentimen yang berasal dari domestik maupun global,” jelas I Made.

Lebih rinci diungkapkan, dari sisi global, semakin dekatnya pertemuan G20 pada akhir pekan ini, para pelaku pasar semakin menantikan perkembangan perang dagang antara Amerika dan China, dimana Donald Trump berencana membahas lebih lanjut mengenai perdagangan dengan China.

Sementara itu, dengan kondisi pasar yang kondusif tersebut, para pelaku pasar juga mengamati proses lelang Surat Berharga Negara Syariah (SBSN) yang dilaksanakan oleh pemerintah pada perdagangan kemarin.

Pemerintah berhasil meraup dana sebesar Rp8,00 triliun dari total penawaran yang masuk sebesar Rp40,19 triliun, lebih tinggi dari lelang sebelumnya yang hanya sebesar Rp20,2 triliun.

Lebih lanjut diungkapkan, pada perdagangan kemarin (25/6), harga Surat Utang Negara (SUN) mengalami kenaikan pada sebagian besar serinya hingga sebesar 47 bps yang mengakibatkan penurunan imbal hasil hingga sebesar 5,6 bps.

Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) didapati kenaikan harga hingga sebesar 14 bps yang mendorong turunnya tingkat imbal hasil hingga sebesar 7,7 bps.

Sementara itu, untuk tenor menengah (5-7 tahun) mengalami kenaikan harga yang berkisar antara 6 bps hingga 44 bps yang mengakibatkan penurunan imbal hasil dengan rentang 1,5 bps hingga 8 bps.

Adapun untuk tenor panjang (diatas 7 tahun) terpantau mengalami rata-rata kenaikan harga sebesar 61 bps yang berdampak pada turunnya imbal hasil mencapai 36 bps.

Sehingga secara keseluruhan, koreksi harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin telah mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil pada Surat Utang Negara seri acuan.

Adapun untuk tenor 5 tahun dan 10 tahun mengalami penurunan imbal hasil  masing-masing sebesar 1,5 bps dan 5,4 bps.

Sementara itu, untuk tenor 15 tahun dan 20 tahun juga ikut mengalami penurunan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 2,6 bps dan 4,7 bps.