Volume SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp22,50 Triliun dari 39 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Rabu (19/6/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Utang Negara (SUN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (18/6), mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya (17/6), yakni tercatat senilai Rp22,50 triliun dari 39 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan dimana volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp16,29 triliun.

Adapun Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp8,62 triliun dari 125 kali transaksi.

Sedangkan Obligasi Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun tersebut diperdagangkan pada harga rata - rata 103,80%.

Adapun Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Surat Berharga Syariah Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp612,05 miliar dari 14 kali transaksi dengan harga rata - rata pada level 99,05%.

Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di hari Selasa tanggal 18 Juni 2019 senilai Rp771,30 miliar dari 50 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. 

Obligasi Berkelanjutan III WOM Finance Tahap II Tahun 2019 Seri B (WOMF03BCN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp100,20 miliar dari 4 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap V Tahun 2019 Seri C (ADMF04CCN5) dan Obligasi Berkelanjutan III Sarana Multigriya Finansial Tahap VI Tahun 2016 (SMFP03CN6) masing-masing senilai Rp80,50 miliar dari 5 kali transaksi dan Rp70,00 miliar dari 8 kali perdagangan. 

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup pada level 14328,00 per dollar Amerika yang menguat sebesar 7,00 pts dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Penguatan rupiah terhadap dollar Amerika bergerak cukup fluktuatif sepanjang sesi perdagangan.

Dibuka melemah kemudian bergerak menguat  dan melemah pada pertengahan sesi perdagangan. Selanjutnya, pergerakan rupiah didapati menguat kembali hingga akhir sesi perdagangan.

Adapun nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 14324—14340 per Dollar Amerika.

Penguatan rupiah tersebut diikuti oleh mata uang regional yang bergerak bervariasi pada sebagian besar serinya, dimana yang memimpin penguatan mata uang regional yaitu Rupee India (INR) dan Peso Filipina (PHP) yang keduanya menguat sebesar 0,29% dan diikuti oleh Yen Jepang (JPY) sebesar 0,22%. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,15% dan diikuti pelemahan mata uang Ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,11% terhadap Dollar Amerika.

Sementara itu, Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami penguatan masing-masing pada level 2,068% dan 2,556%.

Adapun kenaikan imbal hasil US Treasury tersebut seiring dengan kenaikan indeks saham utamanya.

Untuk indeks NASDAQ terpantau mengalami penguatan sebesar 139 bps di level 7953,88 dan indeks DJIA naik sebesar 135 bps di level 26465,54.

Sementara itu, imbal hasil dari Surat Utang Jerman (Bund) dan surat utang Inggris (Gilt) untuk tenor 10 tahun ditutup mengalami kenaikan masing-masing di level –0,32% dan 0,808%.