Dari 722 BPR Bermodal Kurang Dari Rp6 Miliar, Sepertiganya Sulit Penuhi Syarat Modal Inti

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, terdapat 300-an Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang sulit memenuhi ketentuan minimal modal inti pada akhir 2019. Pasalnya, pemegang saham pengendali (PSP) dari ratusan BPR tersebut sudah memiliki cara lain untuk memenuhi ketentuan minimal modal inti.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Penelitian dan Pengaturan BPR OJK, Ayahandayani di Bandung, Jumat (3/5/2019).

“Dari 722 BPR yang modal intinya kurang dari Rp6 miliar, sepertiganya telah angkat tangan dan minta di merger atau konsolidasi," jelasnya.

Ia melanjutkan, sepertiga lainnya telah memiliki langkah untuk memenuhi ketentuan minimal modal inti pada akhir tahun 2019 dan sepertiganya lagi masih mencari cara untuk memenuhi ketentuaan belied yang berlaku sejak 2015 tersebut.

“Jadi, yang kami pantau secara intensif yang sepertiganya,” kata dia.

Untuk diketahui, OJK mengharuskan BPR dengan modal inti dibawah Rp3 miliar untuk segera meningkatkan modal inti untuk mencapai minimal Rp3 miliar pada akhir 2019. Sedangkan BPR dengan modal inti Rp6 miliar wajib mencapai angka minimal Rp6 miliar pada tahun 2019.

“Sampai saat ini, BPR dengan modal inti kurang dari Rp3 miliar mencapai 378 BPR dan sebanyak 344 BPR bermodal inti kurang dari Rp6 miliar,” urai dia.

Masih menurut Ayahandayani, bahwa OJK terus mendorong PSP BPR tersebut untuk melakukan merger dan konsolidasi.

“OJK telah menyiapkan RPOJK yang didalamnya terdapat insentif bagi yang melakukan merger dan konsolidasi, Seperti perluasan wilayah kerja hingga provinsi dan peniadaan kewajiban sertifikasi,” tutup dia.