Harga SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Melemah Seiring Pelemahan Rupiah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Dalam riset yang dirilis Rabu (15/5/2019), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, pelemahan harga Surat Utang Negara (SUN) yang terjadi pada perdagangan kemarin (14/5), didukung oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika seiring dengan menguatnya mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang regional.

“Rupiah pada perdagangan kemarin menyentuh level terlemahnya selama lebih dari empat bulan terakhir. Hal ini dikarenakan toleransi risiko yang masih lemah ditengah meningkatnya ketegangan perang dagang antara Amerika dan China sehingga para pelaku pasar cendeung untuk memilih menginvestasikan dananya ke safe haven asset seperti US Treasury,” ungkap I Made.

Asal tahu saja, China mengumumkan bahwa akan menaikan tarif sekitar USD60 miliar sebagai balasan atas kebijakan dagang Amerika.

Sementara itu, dari sisi domestik, Bank Indonesia juga akan bersedia untuk campur tangan untuk menigkatkan kepercayaan para investor dan menjaga nilai tukar Rupiah.

Disisi lain, hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang dilaksanakan pada perdagangan kemarin tidak sebaik biasanya, nampaknya para investor menahan diri dan wait and see atas sentimen-sentimen yang terjadi pada pasar keuangan global.

“Pemerintah meraup dana senilai Rp5,15 triliun melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara pada tanggal 14 Mei 2019 untuk seri SPNS01112019 (reopening), SPNS15052020 (new issuance), PBS014 (reopening), PBS019 (reopening) dan PBS022 (reopening), PBS015 (reopening),” jelas I Made.

Lebih rinci diungkapkan, pada perdagangan kemarin (14/5), imbal hasil Surat Utang Negara bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan merespon kondisi pasar keuangan global akibat ketegangan perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China.

Adapun untuk perubahan imbal hasil Surat Utang Negara terjadi bekisar antara 6,3 bps hingga 9 bps dengan rata-rata kenaikan imbal hasil sebesar 1 bps.

Imbal hasil untuk Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1—4 tahun) mengalami kenaikan imbal hasil hingga sebesar 6,4 bps yang didorong penurunan harga hingga sebesar 20,7 bps.Sementara itu Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5—7 tahun) mengalami perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 2 bps yang setelah akibat dari turunnya harga hingga sebesar 8,4 bps dan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang yang mengalami perubahan berkisar antara 6,3—9 bps didorong oleh perubahan harga yang berkisar antara 50—70 bps.

Ditambahkan, secara keseluruhan, perubahan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil pada sebagian besar Surat Utang Negara seri acuan.

Adapun Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 2 bps pada level 7,492%; kenaikan imbal hasil seri acuan dengan tenor 10 tahun sebesar 1 bps pada level 8,020%.

Namun untuk Surat Utang Negara dengan tenor 15 dan 20 tahun perubahan imbal hasil seri acuan tenor 15 tahun dan 20 tahun turun sebesar 1 bps masing-maisng pada level 8,532% dan 8,611%.

Sementara itu, sentimen negatif perang dagang Amerika-China juga mempengaruhi terjadinya perubahan imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing.

Pada perdagangan di hari Selasa, imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing mengalami kenaikan pada keseluruhan serinya. Imbal hasil dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 2,6 bps pada level 3,42%. Adapun imbal hasil dari INDO29 ikut naik sebesar 4,7 bps pada level 3,95%.