Volume SUN Diperdagangan Senin Kemarin Senilai Rp11,13 Triliun dari 34 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Selasa (14/5/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Utang Negara (SUN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (13/5) mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya.

Volume perdagangan yang dilaporkan tercatat senilai Rp11,13 triliun dari 34 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan dimana volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp5,87 triliun.

Sedangkan Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,12 triliun dari 59 kali transaksi. Obligasi Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun tersebut diperdagangkan pada harga rata - rata 102,21%.

Adapun Sukuk Ritel Negara seri SR009 menjadi Surat Berharga Syariah Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp86,53 miliar dari 22 kali transaksi dengan harga rata - rata pada level 99,47%.

Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di hari Senin senilai Rp856,79 miliar dari 40 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi II Bussan Auto Finance Tahun 2018 Seri A(BAFI02A) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp107,00 miliar dari 5 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap V Tahun 2019 Seri A (ADMF04ACN5) dan Obligasi Berkelanjutan II Medco Energi Internasional Tahap IV Tahun 2017 Seri A (MEDC02ACN4) masing-masing senilai Rp88,00 dari 6 kali transaksi dan Rp81,00 miliar dari 2 kali perdagangan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup pada level 14425,00 per dollar Amerika dan menguat sebesar 99,00 pts dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan hari Senin, Rupiah mengalami penguatan terhadap dollar Amerika sepanjang sesi perdagangan.

Dibuka menguat pada level 14338,00 per dollar Amerika, nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 14338 - 14441 per dollar Amerika.

Adapun pelemahan nilai tukar Rupiah tersebut diikuti oleh pelemahan sebagian besar mata uang regional. Mata uang yang memimpin penguatan mata uang regional yaitu; mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 1,71% dan diikuti oleh Baht Thailand (THB) sebesar 0,82%.

Sedangkan mata uang dengan pelemahan terbesar didapati pada mata uang Renminbi China sebesar 2,08% yang diikuti pelemahan Won Korea Selatan (KRW) sebesar 1,64% dan Rupee India (INR) sebesar 1,39% terhadap Dollar Amerika.

Disisi lain, dari perdagangan surat utang global, imbal hasil surat utang global bergerak cukup bervariasi.

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 dan 30 tahun ditutup dengan mengalami penurunan masing-masing pada level 2,40% dan 2,84% setelah merespon kebijakan baru pemberlakuan tarif impor yang terjadi antara Amerika dan China.

Sementara itu, imbal hasil dari Surat Utang Jerman (Bund) ditutup menguat pada level –0,07% dan untuk surat utang Inggris (Gilt) ditutup melemah di level 1,092% dimana masing-masing bertenor 10 tahun.