Harga SUN Diperdagangan Senin Kemarin Alami Penurunan Akibat Sentimen Perang Dagang

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Perdagangan Surat Utang Negara (SUN) pada hari Senin, 13 Mei 2019 kemarin, mengalami penurunan harga yang mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasil akibat adanya sentimen perang dagang antara Amerika dan China serta pengaruh data makroekonomi domestik yang tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar.

Dalam riset yang dirilis Selasa (14/5/2019), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, turunnya harga yang mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan kemarin (13/5), dipengaruhi oleh sentimen negatif perang dagang antara Amerika-China serta data makroekonomi domestik yang tidak sesuai perkiraan para pelaku pasar.

Adapun sentimen negatif perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China berdampak pada keadaan pasar keuangan global terutama pada regional Asia, termasuk Indonesia.

Pada perdagangan hari ini, Amerika mengenakan kenaikan tarif baru secara sepihak di tengah negosiasi yang masih berjalan. Kenaikan tarif yang semula sebesar 10% menjadi 25% pada sepuluh jenis komoditas perdagangan yang bernilai USD200 miliar.

Sementara itu, dari sisi domestik, sentimen negatif datang dari data makroekonomi yang diluar perkiraan mulai dari data cadangan devisa MoM yang mengalami penurunan, defisit neraca perdagangan hingga pertumbuhan ekonomi domestik.

“Sentimen global dan domestik tersebut yang membuat para pelaku pasar menjadi lebih pesismis serta menahan diri melakukan transaksi di pasar sekunder,” jelas I Made.  

Lebih rinci diungkapkan, Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Senin, 13 Mei 2019 kemarin bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan akibat adanya sentimen global dan respon data ekonomi domestik yang kurang baik selama sepekan terakhir.

Perubahan tingkat imbal hasil berkisar antara 2,2 - 17 bps dimana sebagian besar Surat Utang Negara mengalami kenaikan imbal hasil. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami perubahan berkisar antara 0,7 - 4,1 bps dengan didorong oleh adanya  koreksi harga yang berkisar antara 2 - 8,5 bps.

Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami perubahan berkisar antara 3,1—7 bps dengan adanya penurunan harga yang berkisar antara 12,7 - 38,1 bps dan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang yang mengalami perubahan berkisar antara 2,2 - 17 bps didorong oleh perubahan harga yang berkisar antara 17,5 - 165 bps.

Secara keseluruhan, perubahan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 3,1 bps pada level 7,490%; kenaikan imbal hasil seri acuan dengan tenor 10 tahun sebesar 4,4 bps pada level 8,010%; kenaikan imbal hasil seri acuan tenor 15 tahun sebesar 6,6 bps pada level 8,536% dan kenaikan imbal hasil seri acuan dengan tenor 20 tahun sebesar 4,3 bps pada level 8,611%.

Lebih lanjut I Made mengungkapkan, adanya sentimen negatif perang dagang Amerika-China dan kondisi ekonomi Indonesia yang diluar perkiraan pelaku pasar juga mempengaruhi terjadinya perubahan imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing.

Pada perdagangan di hari Senin, imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing mengalami kenaikan pada keseluruhan serinya. Imbal hasil dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 0,5 bps pada level 3,39%. Adapun imbal hasil dari INDO29 ikut naik sebesar 2,9 bps pada level 3,91%.