Analis : Inverted Yield Mendorong Potensi Tidak Adanya Kenaikkan Fed Rate

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Memang benar issue yang sedang hangat saat ini adalah inverted yield US Treasury. Khususnya ketika obligasi jangka pendek memberikan imbal hasil yang lebih besar ketimbang obligasi jangka panjang.

Namun sebagai catatan, inverted yield ini sebetulnya terlihat sudah sejak dari awal tahun 2019, meskipun spread antara US Treasury 3 bulan dengan US Treasury 10 tahun masih belum terlalu kentara, tapi sudah memperlihatkan ke arah sana.

Dalam riset yang dirilis Selasa (26/3/2019), analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, kalaupun memang ada potensi bahwa ekonomi Amerika akan mengalami resesi, biasanya hal itu terjadi 18 bulan mendatang.

“Jadi masih ada waktu sebetulnya untuk mempersiapkan diri menghadapi hal tersebut. Selain itu, apabila kita menilik data US Markit Manufacturing, Services, dan Composite memang mengalami penurunan, namun masih berada di atas 50. Jadi sebetulnya secara jangka waktu beberapa bulan ke depan, hal ini masih dapat dikatakan cukup baik,” tegas analis Pilarmas.

Ditambahkan, kondisi tersebut berbeda dengan Eropa, dimana data Markit Manufacturing-nya sudah berada di bawah 50, dan masih terus mengalami penurunan.

“Sehingga boleh dikatakan perekonomian Amerika masih lebih baik untuk saat ini,” ungkap analis Pilarmas.

Lebih lanjut, analis Pilarmas juga menyebutkan, inverted yield juga mendorong potensi tidak adanya kenaikkan Fed Rate, dan justru mendorong The Fed untuk menurunkan tingkat suku bunganya agar dapat memberikan stimulus perekonomian.

Tentu disatu sisi, ini merupakan sesuatu yang sangat baik karena akan memberikan potensi tingkat suku bunga Bank Indonesia juga mengalami penurunan pada semester 2 nanti.

“Memang berat potensi resesi di Amerika, namun tentu akan selalu ada hal yang baik juga dibalik itu semua. Lagipula penurunan ekonomi Amerika juga disebabkan oleh berbagai factor, salah satunya perang dagang yang merupakan sesuatu yang memberikan dampak secara langsung. Menariknya, meskipun Amerika mengenakan tarif yang besar kepada barang China, defisitnya perdagangan Amerika - China bukan malah berkurang justru malah kian dalam, meskipun akhir akhir ini mengalami perbaikan meskipun tidak banyak,” jelas analis Pilarmas.

Sebelumnya, mantan gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, Janet Yellen, juga mengatakan, bahwa pasar obligasi AS saat ini bisa jadi tengah memberi sinyal perlunya pemotongan suku bunga dan mengakhiri tren pelemahan ekonomi.

Menurutnya, pembalikan yield obligasi bertenor tiga bulan dan 10 tahun yang terjadi sejak Jumat pekan lalu (22/3) itu, bukanlah pertanda resesi.

"Jawaban saya adalah tidak, saya tidak melihatnya sebagai sebuah sinyal resesi," ujarnya, seperti dilansir dari CNBC International.

Asal tahu saja, inversi yield antara tenor tiga bulan dan 10 tahun seringkali dijadikan indikator terjadinya resesi setidaknya dalam 18 bulan ke depan.

Investor yang meminta 'jaminan ' lebih tinggi untuk instrumen jangka pendek menggambarkan pembacaan yang suram terhadap kondisi perekonomian dalam waktu dekat.