ANALIS MARKET (30/10/2019) : IHSG Berpeluang Bergerak Menguat Terbatas

Foto : Ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Selasa 29/10/2019 kemarin, IHSG ditutup menguat 15 poin atau sebesar 0,25% ke level 6.281. Sektor dari properti, infrastruktur, agrikultur, dan aneka industri menjadi kontributor terbesar pada kenaikan IHSG kemarin. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar 534,7 miliar rupiah.

Adapun sentimen yang menjadi sorotan pelaku pasar hari ini adalah;

1.Inggris Akan Mengadakan Pemilihan Umum Pada Tanggal 12 Desember

Dengan permasalahan yang sama berputar putar ditempat yang sama, pada akhirnya untuk pertama kalinya sejak 1923, masyarakat inggris akan memberikan suaranya dalam Pemilihan Umum yang akan diadakan pada tanggal 12 Desember nanti. Pada akhirnya anggota parlemen Inggris telah memilih untuk mengadakan jajak pendapat nasional pada tanggal 12 Desember nanti. Ini merupakan upaya ke 4 Perdana Menteri Boris Johnson untuk melakukan Pemilu, daripada proses tersebut terkantung kantung hingga hari ini. Pemlihan nanti memberikan kesempatan kepada Inggris untuk memilih antara tetap tinggal bersama Uni Eropa atau Brexit. Dan apa yang dilakukan Johson menurut kami merupakan sesuatu yang memang harus diambil, ini mungkin akan menjadi langkah terakhir karena Johnson menggunakan pemilih untuk memilih kembali antara Brexit atau tidak.

2.The Fed dan Bank of Japan

The Fed dan Bank of Japan sama sama akan mengumumkan hasil keputusan terkait dengan tingkat suku bunga. Bagi The Fed sendiri, keputusan untuk memangkas tingkat suku bunga terbuka lebar. Potensi untuk dilakukan pemangkasan tingkat suku bunga The Fed berkisar diangka 94% dengan rentang pemangkasan 25 bps. Para pelaku pasar memang sudah memprediksikan bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga, namun sekali lagi, mungkin saja issue pemangkasan ini akan menjadi issue yang digoreng oleh pasar. Memang beberapa indikasi mengatakan bahwa mungkin saja ini merupakan pemangkasan terakhir tahun ini, dan akan memberikan ruang 1x pemangkasan lagi tahun depan sebesar 25 bps. Tidak hanya dari The Fed saja, meskipun Bank of Japan kami rasa belum memberikan keputusan yang signifikan, tapi pandangan dan strategi Bank of Japan kedepannya akan menjadi perhatian pasar, karena hal ini akan memberikan pengaruh terhadap ekonomi Japan itu sendiri, baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Oleh sebab itu penantian pengumuman kedua Bank Sentral ini akan menjadi salah satu moment yang ditunggu oleh pasar sebelum melakukan pergerakan lebih lanjut.

3.Data Ekonomi Amerika, Eropa, dan China

Ditengah tengah penantian akan hadirnya pengumuman Bank Sentral Amerika dan Japan, Data GDP Amerika akan keluar hari ini atau berkisar nanti malam dengan prediksi lebih rendah dari pada sebelumnya dengan kisaran di 1.6%, dengan personal consumption juga mengalami penurunan dari sebelumnya 4.6% menjadi 2.6%. Data ekonomi ini akan menjadi salah satu pertimbangan bagi Bank Sentral Amerika untuk memutuskan tingkat suku bunga, terkait dengan perlambatan ekonominya yang terus berlanjut. Data GDP Eropa juga akan keluar esok hari. Ditengah tengah Quantitative Easing tahap 2, Bank Sentral Eropa berharap bahwa akan ada perbaikan bagi perekonomian Eropa. Namun kami melihat secara prediksi, GDP Eropa YoY diperkirakan akan mengalami penurunan dari 1.2% menjadi 1.1%, tingkat inflasi Eropa secara YoY akan mengalami penurunan dari 0.9% menjadi 0.7%. Data GDP dan CPI yang terus melemah akan menjadi katalis negative bagi pasar Eropa, namun hal ini masih sebatas prediksi, apapun bisa saja terjadi. Yang terakhir, data yang akan selalu dinanti dan menjadi primadona adalah data dari China terkait dengan Manufacturing, PMI Manufacturing, Composite, dan Services. Data China yang terus mengalami perlambatan terus menjadi focus bagi para pelaku pasar. Prediksi data PMI Manufacturing akan mengalami pelemahan dari 51.4 menjadi 51. Apabila data ekonomi China negative, sedikit banyak hal ini akan memberikan impact terhadap pasar global juga, tidak terkecuali emerging market. Bagus atau tidaknya pasar di awal bulan November, akan ditentukan dengan data dan keputusan Bank Sentral di akhir October nanti.

4.Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum di Kaji, Bagaimana Peluangnya?

Seperti yang kita ketahui, saat ini berbagai solusi penggunaan energi ramah lingkungan begitu massive dikembangkan. Pemerintah juga sudah mulai melirik kendaraan listrik dan memfasilitasi. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan beleid tersebut tidak hanya akan mengatur tarif saja, melainkan juga standar keamanan SPKLU dan pola pengusahaan bisnis SPKLU. Khusus soal tarif, pemerintah sedang mempertimbangkan sejumlah faktor terutama mengenai jenis SPKLU. Adapun dengan jenis SPKLU yang terdiri atas ultra fast charging, fast charging, maupun medium charging dinilai akan memberikan besaran tarif yang berbeda. Sementara itu, PLN (Persero) meresmikan sembilan unit SPKLU yang tersebar di empat kota yakni Tangerang, Jakarta, Bandung, dan Bali dengan besaran tarif sekitar Rp1.400 per kWh.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada level 6.244 – 6.319,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (30/10/2019).