ANALIS MARKET (25/10/2019) : Ruang Penguatan Pasar Obligasi Masih Terbuka Lebar

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, sentimen positif tiba, namun pasar berkata lain.

Ditengah-tengah kekuatan dorongan positif dari pemangkasan tingkat suku bunga Bank Indonesia, namun kemampuan pasar obligasi untuk mengalami kenaikkan sudah tidak ada. Sehingga mau tidak mau, pasar obligasi bereaksi dengan terjadi penurunan kemarin.

Apakah hal ini buruk? Tidak. Ini hanyalah sebuah bagian dalam perjalanan pasar obligasi untuk mengalami kenaikkan, harus mengalami penurunan terlebih dahulu. Dan itu telah terjadi kemarin (24/10).

Fokusnya adalah apa? Setelah kehilangan momentum penguatan kemarin, apakah bisa pasar obligasi mempertahankan penguatannya setelah mengalami penurunan?

Ruang penguatan pasar obligasi masih sangat terbuka lebar, capital inflow yang terus mengalir menjadi salah satu bukti bahwa pasar obligasi masih memiliki daya tarik.

“Kami melihat bahwa hingga akhir tahun, imbal hasil obligasi 10y berpotensi untuk dibawah 7% atau setidaknya mendekati 7%. Too good to be true? Well, dengan adanya potensi pemangkasan tingkat suku bunga The Fed, bukan tidak mungkin sentiment positif akan kembali mengalir pekan depan ke pasar obligasi,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (25/10/2019).

Adapun sentiment yang menjadi sorotan pelaku pasar di akhir pekan ini, akan dimulai dari;

1.European Central Bank juga mempertahankan suku bunganya kembali kemarin

Pada akhirnya, perpisahan Mario Draghi selama 8 tahun memimpin Lembaga tersebut di akhiri pada keputusan ECB kemarin sekaligus memberikan pernyataan terkait dengan tingkat suku bunga. Bank Sentral Eropa mempertahankan pedoman yang dia yakini, dalam membuat keputusan tingkat suku bunga akan tetap berada di level rendah. Data ekonomi yang masuk terus menunjukkan perekonomian berada di fase moderat, tetapi pertumbuhan tetap positif pada paruh kedua tahun ini. Pelemahan yang terjadi saat ini berada pada sector manufacture di kawasan Euro serta investasi bisnis. ECB mengharapkan GDP untuk tingkat wilayah berada di level 1.1% tahun ini, dan 1.2% pada tahun 2020. Inflasi juga diperkirakan akan berada di 1.2% pada tahun 2019, dan akan menurun menjadi 1% ada tahun 2020. Fokus ECB adalah menjaga inflasi untuk tetap mendekati 2%. ECB melihat tingkat pertumbuhan akan terus melambat akibat dari ketegangan global, sector manufacture yang terus melemah, dan ketidakpastian Brexit. Sebelumnya ECB telah mengeluarkan stimulus berupa pemotongan 10 basis poin untuk tingkat suku bunga deposito serta melakukan pembelian obligasi kembali untuk mendorong stimulus. Dalam pernyataannya juga ECB mengatakan bahwa putaran ke 2 Quantitative Easing akan dimulai pada tanggal 1 November dengan nilai 20 miliar Euro atau % 22.3 miliar per bulan. ECB menyampaikan bahwa QE akan diberikan selama diperlukan untuk memperkuat dampak dari tingkat kebijakan.

2.ECB sudah, Bank Indonesia sudah, The Fed ?

ECB sudah menyampaikan hasil pertemuanya, tidak ada yang berubah memang, namun mereka bersiap untuk Quantitative Easing tahap 2. Bank Indonesia juga sudah memangkas tingkat suku bunga bunganya, untuk menstimulus perekonomian. Bagaimana The Fed pada pekan depan? The Fed tampaknya juga konon menurut penerawangan ada potensi untuk memangkas tingkat suku bunga The Fed pada pekan depan. Meskipun kami melihat perang dagang antara Amerika dan China mulai mereda, tapi ingat, disana belum ada hitam diatas putih yang dibuat. Perjalanan ini masih Panjang, sampai dengan Amerika dan China berhasil tanda tangan pada bulan depan di Chili. Data ekonomi yang keluar hari ini, PMI Manufacture, Services, dan Composite juga tidak dapat dikatakan jelek. Justru mengalami kenaikkan, hal ini yang akan menjadi bahan diskusi The Fed juga pada pekan depan untuk melihat tingkat suku bunga dan apa yang harus diputuskan dengan data yang ada. Meskipun The Fed mengatakan bahwa penurunan tingkat suku bunga sudah cukup tahun ini, namun tidak menutup kemungkinan dengan melihat situasi dan kondisi yang terus berkembang membuat The Fed memangkas tingkat suku bunganya 1x lagi tahun ini. CME Fed Watch pun mendukung probabilitas tersebut dengan berada di kisaran 93.5% bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga. Dan tentu hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat baik apabila ternyata The Fed memang memangkas tingkat suku bunganya pada pekan depan, sehingga akan mendorong booster pada indeks global dan pasar obligasi emerging market.

3.BI Kembali Menurunkan Suku Bunga Acuan

BI mengadakan Rapat Dewan Gubernur pada tanggal 23 – 24 yang kemudian memutuskan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan 7DRRR sebesar 25 bps menjadi 5%. Suku bunga pinjaman turun dari 6.0% menjadi 5.75%, sedangkan suku bunga deposit turun dari 4.5% menjadi 4.25%. Keputusan tersebut dinilai seiringan dengan permintaan pasar dimana saat ini BI memiliki ruang lebih besar untuk menurunkan suku bunga acuan dalam upaya meningkatkan pertumbuhan riil sektor. Kami melihat kebijakan tersebut konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil instrumen keuangan domestik yang tetap menarik, serta langkah pre-emptive lanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perekonomian global yang melambat. Selain itu, pertumbuhan kredit yang melambat pada bulan Agustus dari 9.58% menjadi 8.59% juga menjadi fokus utama Bank Indonesia guna meningkatkan pertumbuhan kredit. Suku bunga kredit turun terutama kredit investasi dan modal kerja yang tercatat 10.11% dan 19.33%. Nilai tukar rupiah diproyeksikan dapat lebih stabil dan bergerak sesuai mekanisme pasar sehingga tidak memberikan tekanan pada cadangan devisa. Kami juga berharap, tentunya penurunan tingkat suku bunga BI ini diikuti juga oleh penurunan tingkat suku bunga kredit di bank sebagai penyalur kredit kepada masyarakat.

“Kami merekomendasikan wait and see hari ini, apabila sudah ada posisi sebelumnya, bisa melepas sebagian keuntungannya saat ini, untuk bisa kembali melakukan pembelian. Namun apabila belum ada posisi, ini merupakan kesempatan yang baik untuk beli di harga rendah apabila terjadi penurunan,” sebut analis Pilarmas.