ANALIS MARKET (25/10/2019) : IHSG Berpeluang Bergerak Menguat dan Ditradingkan Pada Level 6.293 - 6.386

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis, 24/10/2019 kemarin, IHSG ditutup menguat 81 poin atau sebesar 1,31 % ke level 6.339. Sektor aneka industri, barang konsumsi, industri dasar, keuangan, infrastruktur, properti, dan agrikultur bergerak positif dan menjadi kontributor terbesar pada kenaikan IHSG kemarin. Investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar 604.4 miliar rupiah.

Adapun sentimen yang menjadi sorotan pelaku pasar hari ini adalah;

1.European Central Bank mempertahankan suku bunganya kembali kemarin

Pada akhirnya, perpisahan Mario Draghi selama 8 tahun memimpin Lembaga tersebut di akhiri pada keputusan ECB kemarin sekaligus memberikan pernyataan terkait dengan tingkat suku bunga. Bank Sentral Eropa mempertahankan pedoman yang dia yakini, dalam membuat keputusan tingkat suku bunga akan tetap berada di level rendah. Data ekonomi yang masuk terus menunjukkan perekonomian berada di fase moderat, tetapi pertumbuhan tetap positif pada paruh kedua tahun ini. Pelemahan yang terjadi saat ini berada pada sector manufacture di kawasan Euro serta investasi bisnis. ECB mengharapkan GDP untuk tingkat wilayah berada di level 1.1% tahun ini, dan 1.2% pada tahun 2020. Inflasi juga diperkirakan akan berada di 1.2% pada tahun 2019, dan akan menurun menjadi 1% ada tahun 2020. Fokus ECB adalah menjaga inflasi untuk tetap mendekati 2%. ECB melihat tingkat pertumbuhan akan terus melambat akibat dari ketegangan global, sector manufacture yang terus melemah, dan ketidakpastian Brexit. Sebelumnya ECB telah mengeluarkan stimulus berupa pemotongan 10 basis poin untuk tingkat suku bunga deposito serta melakukan pembelian obligasi kembali untuk mendorong stimulus. Dalam pernyataannya juga ECB mengatakan bahwa putaran ke 2 Quantitative Easing akan dimulai pada tanggal 1 November dengan nilai 20 miliar Euro atau % 22.3 miliar per bulan. ECB menyampaikan bahwa QE akan diberikan selama diperlukan untuk memperkuat dampak dari tingkat kebijakan.

2.ECB sudah, Bank Indonesia sudah, The Fed ?

ECB sudah menyampaikan hasil pertemuanya, tidak ada yang berubah memang, namun mereka bersiap untuk Quantitative Easing tahap 2. Bank Indonesia juga sudah memangkas tingkat suku bunga bunganya, untuk menstimulus perekonomian. Bagaimana The Fed pada pekan depan? The Fed tampaknya juga konon menurut penerawangan ada potensi untuk memangkas tingkat suku bunga The Fed pada pekan depan. Meskipun kami melihat perang dagang antara Amerika dan China mulai mereda, tapi ingat, disana belum ada hitam diatas putih yang dibuat. Perjalanan ini masih Panjang, sampai dengan Amerika dan China berhasil tanda tangan pada bulan depan di Chili. Data ekonomi yang keluar hari ini, PMI Manufacture, Services, dan Composite juga tidak dapat dikatakan jelek. Justru mengalami kenaikkan, hal ini yang akan menjadi bahan diskusi The Fed juga pada pekan depan untuk melihat tingkat suku bunga dan apa yang harus diputuskan dengan data yang ada. Meskipun The Fed mengatakan bahwa penurunan tingkat suku bunga sudah cukup tahun ini, namun tidak menutup kemungkinan dengan melihat situasi dan kondisi yang terus berkembang membuat The Fed memangkas tingkat suku bunganya 1x lagi tahun ini. CME Fed Watch pun mendukung probabilitas tersebut dengan berada di kisaran 93.5% bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga. Dan tentu hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat baik apabila ternyata The Fed memang memangkas tingkat suku bunganya pada pekan depan, sehingga akan mendorong booster pada indeks global dan pasar obligasi emerging market.

3.BI Kembali Menurunkan Suku Bunga Acuan. BI mengadakan Rapat Dewan Gubernur pada tanggal 23 – 24 yang kemudian memutuskan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan 7DRRR sebesar 25 bps menjadi 5%. Suku bunga pinjaman turun dari 6.0% menjadi 5.75%, sedangkan suku bunga deposit turun dari 4.5% menjadi 4.25%. Keputusan tersebut dinilai seiringan dengan permintaan pasar dimana saat ini BI memiliki ruang lebih besar untuk menurunkan suku bunga acuan dalam upaya meningkatkan pertumbuhan riil sektor. Kami melihat kebijakan tersebut konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil instrumen keuangan domestik yang tetap menarik, serta langkah pre-emptive lanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perekonomian global yang melambat. Selain itu, pertumbuhan kredit yang melambat pada bulan Agustus dari 9.58% menjadi 8.59% juga menjadi fokus utama Bank Indonesia guna meningkatkan pertumbuhan kredit. Suku bunga kredit turun terutama kredit investasi dan modal kerja yang tercatat 10.11% dan 19.33%. Nilai tukar rupiah diproyeksikan dapat lebih stabil dan bergerak sesuai mekanisme pasar sehingga tidak memberikan tekanan pada cadangan devisa. Kami juga berharap, tentunya penurunan tingkat suku bunga BI ini diikuti juga oleh penurunan tingkat suku bunga kredit di bank sebagai penyalur kredit kepada masyarakat.

4.Kondisi Politik Mereda, Dukung Pergerakan Harga CPO.

Pemulihan harga CPO setelah melewati trend penurunan yang cukup kuat sepanjang tahun 2019 memberikan harapan terhadap para emiten maupun pelaku pasar. Penguatan harga CPO belakangan ini tak hanya didukung dari program B20 saja, namun kondisi geopolitik yang mereda turut memberikan dampak penguatan bagi pergerakan harga sejak Juli 2019. Keputusan China untuk memberikan keringanan terhadap tarif bagi perusahaan pengolah yang membeli kedelai dari Amerika turut memberikan sentiment positif bagi harga minyak kedelai selaku produk subtitusi minyak sawit. Pergerakan harga kedelai dapat mempengaruhi harga CPO karena keduanya bersaing dalam pasar minyak nabati. Awal pekan ini, Menteri Industri Primer Malaysia Teresa Kok menyampaikan implementasi mandat campuran biodiesel 20 persen atau B20 di Malaysia akan menggugah konsumsi sawit lokal hingga 1,3 juta ton dalam setahun. Selain itu, pasar sawit juga memperoleh dukungan setelah data SGS Malaysia Sdn memperlihatkan ekspor sawit Malaysia ke China melonjak 42 persen menjadi 164.838 ton pada 20 hari pertama Oktober 2019, dari periode yang sama bulan sebelumnya. Namun kami melihat investor saat ini masih berhati-hati pada kelompok yang memberikan pengaruh terhadap hubungan politik India yang saat ini meminta anggotanya untuk menahan diri untuk membeli sawit dari Malaysia, setelah Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengkritik negara mereka soal Kashmir. Dampak dari statement tersebut ikut memberikan potensi bagi penguatan harga saham emiten sawit yang terdaftar di IHSG.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan ditradingkan pada level 6.293 - 6.386,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (25/10/2019).