ANALIS MARKET (23/10/2019) : Pasar Obligasi Hari Ini Rawan Aksi Profit Taking

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas menyebutkan, ditengah tengah sentiment positif akan kabinet kerja Pak Jokowi, ditambah dengan adanya potensi pemangkasan tingkat suku bunga pada pertemuan RDGI esok hari, membuat investor menjadi tersulut keyakinan akan pasar obligasi.

Bukan tidak mungkin imbal hasil obligasi Pemerintah 10y, akan berada di bawah 7%, dan semoga kami berharap bisa konsisten berada di bawah angka tersebut.

Diumumkannya kabinet kerja hari ini, akan mendorong pasar untuk bereaksi, namun kami berharap bahwa apa yang dinantikan oleh pasar tidak dibuat kecewa dengan Menteri yang mungkin tidak sesuai.

Oleh sebab itu, hari ini akan menjadi titik balik safari politik pencarian Menteri yang yang diumumkan hari ini.

Adapun sentiment yang menjadi sorotan pelaku pasar hari ini akan dimulai dari;

1.Beijing tengah mempertimbangkan untuk menggantikan Carrie Lam Pemerintah China tengah mengembangkan rencana untuk menggantikan Kepala Eksekutif Hongkong Carrie Lam pada bulan Maret nanti. Pengganti Carrie Lam tersebut akan menggantikan posisinya tersebut dan harus tetap menjalankan tugasnya hingga 2022, namun tidak harus melanjutkan setelah 2022. Beberapa candidate tengah dipersiapkan, yaitu Norman Chan sebelumnya adalah kepala otoritas moneter Hongkong dan Henry Tang, yang sebelumnya telah menjadi sekretaris keuangan wilayah dan administrasi. Lam sebelumnya telah meminta ijin untuk mengundurkan diri beberapa kali, tetapi permintaannya ditolak oleh Beijing. Dengan adanya kesempatan untuk digantikan, maka pada akhirnya Carrie Lam akan melepaskan jabatannya tersebut pada bulan Maret nanti. Namun pertanyaan yang menggelitik adalah, apakah ini cukup untuk demonstran? Apakah setelah penggantian mereka akan berhenti melakukan aksinya? Kami pikir mungkin tidak akan pernah berhenti, karena kalau kita mundur kembali kebelakang, demonstran meminta 5 permintaan bukan 1. Oleh sebab itu kami melihat bahwa sekalipun Carrie Lam digantikan, mungkin akan meredakan tensi, namun bukan menghentikan tensi tersebut. Namun mungkin situasi dan kondisi 5 bulan berikutnya akan berbeda.

2.Lagi-lagi Inggris gagal dalam pemungutan suara untuk Brexit Ketika kedua belah pihak telah setuju antara Inggris dengan Uni Eropa terkait dengan kesepakatan perpisahan, yang dimana 1 minggu yang lalu mereka menyampaikan bahwa kesepakatan ini merupakan kesepakatan yang seimbang dan setara, namun ternyata lagi lagi usaha Boris Johnson untuk mendapatkan suara di Parlement lagi lagi digagalkan. Anggota Parlemen Inggris memilih untuk menolak kerangka waktu untuk meninjau undang undang yang terkait dengan Brexit. Anggota Parlemen menolak jadwal untuk melihat undang undang Penarikan Perjanjian RUU (WAB). Johnson mengatakan bahwa dia sekarang akan menghentikan legislasi sampai dia berdiskusi dengan para pemimpin Uni Eropa. Untungnya hal ini didukung oleh Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, yang dimana Donald mengatakan akan menunda kesepakatan Brexit dan akan merekomendasikan 27 Negara lainnya anggota Uni Eropa menyetujui penundaan Brexit. Sebelum pemungutan suara, banyak dari anggota Parlemen Inggris menyatakan frustasi karena tidak ada cukup waktu untuk memahami RUU WAB dalam waktu 3 hari yang dimana RUU tersebut terdiri dari 100 halaman. Dari kejadian tersebut, hal ini berarti dapat dipastikan bahwa Inggris tidak akan meninggalkan Eropa pada tanggal 31 October, dan lagi lagi Uni Eropa akan memberikan perpanjangan untuk mencegah Brexit tidak ada kesepakatan. Pertanyaannya adalah, mau berapa lama hal ini akan terus berlangsung? Ada kesepakatan, ataupun tanpa kesepakatan, keputusan harus dibuat. Semakin lama Brexit terkantung kantung, semakin lama pula ketidakpastian akan terus berputar. Apa selanjutnya? Jika Parlement menolak untuk membiarkan Brexit terjadi dan memutuskan untuk menunda semuanya, maka pertemuan terkait dengan RUU harus ditarik, dan akan digantikan dengan pemilihan umum. Pada akhirnya Brexit mungkin hanya tinggal nama dan kenangan akibat proses yang terlalu lama dan berbelit, yang menginginkan semua point dimenangkan.

3.Sentimen positif cabinet, mampukah bertahan? Rupiah mengalami penguatan dalam kurun waktu 5 minggu terakhir dengan adanya capital inflow yang terus masuk ke dalam pasar obligasi. Sejauh ini, minggu lalu capital inflow mencatatkan pembelian $361.6 juta obligasi, namun sebagian memasukkan dana tersebut kedalam pasar obligasi berasal dari penarikan di pasar saham senilai $4.1 juta pada 21 October lalu. Capital inflow yang terus mengalir ke dalam pasar obligasi merupakan respon dari potensi pemangkasan tingkat suku bunga Bank Indonesia pada pekan ini yang rencananya RDGI tersebut akan dihelat esok hari. Dengan situasi dan kondisi global yang cenderung stabil, dan didukung oleh optimis dalam Negeri, kami melihat bahwa cukup besar kemungkinan bahwa Bank Indonesia akan dipangkas pada bulan ini. Dan tidak akan berhenti hanya sampai disitu, apabila The Fed jadi untuk memangkas tingkat suku bunga pada tahun ini 1x lagi, maka hal itu berpotensi untuk Bank Indonesia memangkas tingkat suku bunga sebanyak 2x tahun ini, 1x pada bulan October, dan 1x pada bulan December. Meskipun itu semua baru skenario, namun hal itu tidak tertutup kemungkinan bahwa hal itu akan terjadi. Fokus utamanya saat ini adalah menanti secara utuh, gambaran cabinet kerja Indonesia Jilid II yang akan diumumkan hari ini. Kami semua berharap tentu, bahwa Menteri yang berada di posisi jabatan tersebut, sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk mendukung program visi dan misi Jokowi. Tidak peduli mau berasal dari Partai Politik atau Professional, selama mereka bekerja secara professional, dan sesuai dengan kompetensi dibidangnya, maka tentu hal ini akan disambut baik oleh pasar.

“Kami merekomendasikan beli hari ini dengan volume terbatas. Ruang penguatan sudah tidak ada, kenaikkan hanya mengandalkan sentimen positif. Tetap berhati hati, karena rawan profit taking,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (23/10/2019).