ANALIS MARKET (10/10/2019) : Aksi 'Wait and See' Masih Direkomendasikan di Pasar Obligasi

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi masih mengalami pelemahan namun tidak banyak, tapi secara konsistensi terus mencatatkan penurunan meskipun baru melewati level support pertama.

Ditengah-tengah tingginya tensi yang kian meningkat menjelang pertemuan antara Amerika dengan China, kini semua mata tertuju kepadanya.

Meskipun kami melihat ruang untuk terjadinya kesepakatan semakin mengecil. Tapi tidak ada salahnya kita berharap terhadap kesepakatan partial daripada tidak sama sekali.

Transaksi di pasar obligasi memang terlihat menurun, tapi lebih kepada strategi berinvestasi buy and hold untuk sementara ini, selain memang secara trend pasar obligasi juga sedang memasuki fase konsolidasi.

Adapun sentiment yang menjadi sorotan pelaku pasar hari ini mulai dari;

1.China terbuka untuk kesepakatan kecil pada pertemuan nanti, Amerika?

China dikabarkan masih sangat terbuka untuk mencapai kesepakatan partial bersama dengan Amerika. China masih berusaha untuk mengurangi dampak akibat perang dagang yang terjadi antara kedua Negara tersebut. Para negosiator, baik dari China maupun Amerika, tampaknya memang sedari awal mereka tidak terlalu optimis dengan kesepakatan yang luas pada pekan ini. Namun sekali lagi, China akan mencoba untuk membuat kesepakatan yang kecil, seperti yang telah di cobanya pada tahun 2017 lalu. China akan mencoba membuat kesepakatan jika, Trump tidak akan mengenakkan tarif yang lebih tinggi pada pertengahan bulan October ini, dan tentunya pada bulan December nanti. Dan sebagai gantinya, China akan melakukan pembelian produk pertanian dengan kesepakatan yang berlaku. China siap untuk melakukan pembelian yang dimana sebelumnya 20 juta saat ini menjadi 30 juta ton per tahun. Pertanyaannya adalah, apakah Amerika mau untuk melakukan kesepakatan partial tersebut? Meskipun saat ini ada tekanan dari domestic, dan tentu saja harga diri Trump yang pernah mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah menerima kesepakatan yang kecil. Wakil perdana Liu He telah tida di Washington sejak hari Selasa kemarin dengan team untuk bertemu dengan team Amerika, guna mempersiapkan pertemuan negosiasi pada hari Kamis dan Jumat. Kami terkadang melihat pertemuan ini seperti dagelan Opera Van Java, yang kami melihat justru terlalu banyak intrik yang terjadi. Bahkan sebelum pertemuan yang diadakan berlangsung, dan justru ketika menjadi perhatian semua orang, Amerika justru malah menambah tensi diantara kedua belah phak dengan memasukkan sejumlah Perusahaan China untuk masuk ke dalam daftar blacklist. Kami yakin, bahwa Amerika tentu lebih cerdas dan lebih paham arti sebuah negosiasi, tapi cara cara yang diperlihatkan kami pikir bukan sesuatu yang gentle. Mungkinkah ada permainan? Mungkin saja. Tapi kalau hanya sekedar ingin menunjukkan kekuasaan Amerika terhadap China, kami pikir ada cara yang lebih baik dari ini. Dari pihak China sendiri, Huo Jianguo, mantan pejabat Kementrian Perdagangan China mengatakan bahwa mungkin saja ada terobosan besar yang mungkin terjadi antara kedua Negara tersebut. Bagi Trump dan Xi Jinping, kesepakatan ini tentu sangat berarti. Bagi Trump tentunya bagi perekonomiannya secara jangka Panjang, dan bahan untuk melakukan kampanye nya nanti. Bagi Xi Jinping kesepakatan ini juga akan membantu pelemahan ekonomi China yang saat ini terus mencatatkan penurunan yang signifikan.

2.Risalah The Fed

Risalah The Fed yang menunjukkan pertemuan FOMC meeting pada bulan September lalu menunjukkan bahwa pasar ternyata mengharapkan penurunan tingkat suku bunga yang lebih besar. Meskipun seperti yang kita ketahui, The Fed menyetujui penurunan tingkat suku bunga, namun document yang telah dikeluarkan menunjukkan bahwa ada perpecahan diantara anggota mengenai kebijakan The Fed dimasa yang akan datang. Ditengah situasi dan kondisi yang saat ini tengah terjadi, pasar kembali bertaruh bahwa The Fed akan menindaklanjuti penurunan tingkat suku bunga pada bulan October nanti, namun sekali lagi kami ingatkan bahwa hal ini dikatakan oleh pasar, bukan oleh The Fed. Karena pasar akan menggoreng issue ini sebagai alasan penguatan pasar dalam jangka waktu pendek. Komite juga terus mencari keselarasan antara keputusan dengan ekspektasi pasar mengenai tingkat kebijakan. Dalam risalah tersebut juga diperlihatan bahwa secara Dot Plot, ada 5 anggota yang tidak mendukung apabila The Fed memangkas kembali tingkat suku bunga tahun ini. 5 Anggota yang lain melihat adanya pemotongan tingkat suku bunga pada tahun depan, dan 7 Anggota menginginkan pemotongan tambahan dalam tahun ini. Alasan pemangkasan tingkat suku bunga kemarin, masih datang dari melambatnya pertumbuhan global yang meluas ke Amerika, yang dilanjutkan dengan perang dagang antara Amerika dan China, serta inflasi yang terus menerus rendah yang telah berjalan di bawah target The Fed yaitu 2%. Namun dari ketiga alasan itu, The Fed melihat bahwa perang dagang merupakan perhatian yang paling utama, dengan focus utamanya adalah dampak dari tarif yang diberlakukan oleh Trump terhadap aktivitas bisnis. Menurut The Fed, factor factor penting dalam perang dagang tersebut telah memberikan efek negative yang signifikan terhadap ekonomi Amerika daripada sisi positifnya. Powell pada pidatonya pekan lalu juga telah mengatakan bahwa besar kemungkinan bahwa Bank Sentral akan mulai membeli kembali US Treasury namun bukan dalam artian Quantitative Easing, namun lebih kepada sebagai langkah untuk menumbuhkan neraca dan cadangan.

 

“Kami merekomendasikan wait and see hari ini,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (10/10/2019).