Investor Kakap Kurang Berminat, KPEI Rayu Investor Ritel Ikut SLB

Foto : istimewa

Pasardana.id - Operator bursa tengah mengajak para investor ritel untuk terlibat dalam program Securities Lending and Borrowing (SLB).

Pasalnya, menjelang pelaksanaan penyelesaian transaksi dalam dua hari atau T+2, masih minim saham-saham yang siap dipinjamkan.

Hal itu disampaikan Direktur PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Iding Pardi di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/9/2018).

“Sistemnya sudah siap, tapi yang jadi permasalahan adalah yang mau meminjamkan saham masih minim,” kata dia.

Padahal, lanjut dia, sudah ada 100 Anggota Bursa (AB) yang masuk dalam program tersebut. Hanya saja, nasabah AB tersebut kurang berminat.

“Untuk itu, kami telah membuat daftar investor ritel yang akan kami tawari ikut program SLB,” kata dia.

Sebelumnya, dia mengatakan, risiko pada saat masa peralihan dari T+3 ke T+2 adalah gagal serah efek sampai 20% - 25% dari nilai transaksi.

Oleh sebab itu, lanjut dia, pihak regulator, dalam hal ini BEI, KSEI dan KPEI telah menyiapkan beberapa langkah untuk mencegah hal tersebut. Rincinya, pihaknya (KPEI) akan melakukan sosialiasi kepada seluruh anggota bursa (AB), investor dan bank Kustodian.

Disamping, jelas dia lagi, pihaknya juga akan mengajak pelaku pasar seperti Anggota Bursa, emiten dan lembaga asuransi untuk aktif dalam SLB (Securities Lending and Borrowing).

“Sistem lending and borrowing atau pinjam meminjam efek sudah ada, tapi jarang digunakan,” jelas dia.

Padahal, menurut dia, SLB akan mengurangi risiko pelaku pasar gagal serah efek dan terkena denda alternate cash settlement (ACS) sebesar 125% dari nilai saham yang gagal serah.

“Selain mencegah gagal serah, pinjam meminjam efek sebenarnya memberi keuntungan kepada pelaku,” jelas dia.

Ia merinci, setiap transaksi pinjam meminjam efek lewat KPEI akan dikenakan bunga 15% pertahun bagi peminjam dan 12% bagi yang meminjam.

“Selisih tiga persen itu baru untuk KPEI,” ucap dia.