Indeks Nikkei Anjlok 1,33 Persen

foto: istimewa

Pasardana.id - Indeks Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo, Jepang, anjlok 300,31 poin, atau sekitar 1,33 persen, pada Jumat (10/8/2018), menjadi 22.298,08 yang merupakan angka penutupan terendah sejak 12 Juli lalu.

Dalam sepekan terakhir, indeks Nikkei turun 1 persen. Indeks Topix juga melemah hari ini, merosot 1,2 persen menjadi 1.720,16.

Saham perusahaan semikonduktor melemah setelah Morgan Stanley menurunkan outlook industri semikonduktor AS menjadi cautious dari in-line akibat meningkatnya tensi perdagangan antara AS dengan Tiongkok di bidang perdagangan.

Saham Tokyo Electron, Advantest Corporation, Screen Holdings, dan Sumco Corporation masing-masing anjlok 3,6 persen, 4,9 persen, 3,9 persen, dan 4,7 persen.

Saham utama lainnya yang juga mengalami penurunan signifikan adalah saham perusahaan asuransi Dai-ichi Life Holdings dan perusahaan pengapalan Mitsui OSK Lines, yang masing-masing anjlok 3,3 persen dan 2,1 persen.

Sedangkan saham Fujifilm Holdings melambung 3,5 persen setelah perusahaan yang berfokus di bidang fotografi tersebut mengumumkan akan melakukan buy back saham senilai 100 miliar yen.

Nilai tukar dolar AS terhadap yen melemah 0,1 persen menjadi 110,98 yen per dolar AS. Penguatan yen turut menjadi faktor pendukung berlangsungnya penjualan saham hari ini.

Para investor selanjutnya akan memperhatikan dengan seksama hasil pertemuan Menteri Perekonomian Jepang Toshimitsu Motegi dengan Wakil Perdagangan AS Robert Lighthizer. Pertemuan keduanya di Washington pada Kamis (9/8/2018) belum menghasilkan kesepakatan, sehingga perbincangan dilanjutkan Jumat.

“Yang terpenting bagi Jepang adalah dampak pertemuan tersebut terhadap sektor otomotif. Saat ini sangat sulit untuk membuat keputusan investasi, jadi kami harus menunggu sampai pekan depan untuk memperoleh hasil pasti dari pertemuan tersebut,” kata Norihiro Fujito, chief investment strategist Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, seperti dikutip Reuters.

Data ekonomi Jepang yang dirilis Jumat menunjukkan perekonomian Negeri Sakura mengalami rebound pada kuartal II 2018 dari kontraksi yang berlangsung kuartal sebelumnya. Pemulihan yang berlangsung sesuai dengan ekspektasi.