Ingin Naik Kelas BUKU II, ARTO Akan Rajin Right Issue

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) akan melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMETD) atau right issue pada kuartal IV 2018 dengan target dana Rp78 miliar dan hal yang sama akan dilakukan pada tahun 2020 dengan target dana sebesar Rp110,78 miliar.

Sekretaris Perusahaan ARTO, Deddy Triyana mengatakan, rencana pelepasan saham baru itu sejalan dengan rencana perusahaan untuk masuk dalam kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II dalam lima tahun mendatang.

Untuk itu, pihaknya tengah melakukan pembicaraan dengan beberapa perusahaan efek untuk menjadi penjamin pelaksana emisi efek.

“Dalam rigth issue, tidak menutup kemungkinan akan ada investor strategic yang akan memperkuat modal sehingga akan cepat jadi Bank BUKU II,” kata dia di Jakarta, Kamis (31/5/2018).

Lebih lanjut ia menjelaskan, niatan menjadi BUKU II itu sejalan dengan dorongan regulator perbankan terkait konsolidasi perbankan nasional.

“Salah satunya dengan memperkuat modal atau merger,” ujar dia.

Untuk diketahui, BUKU II adalah bank dengan modal inti lebih dari Rp1 triliun hingga Rp5 triliun. Sedangkan modal inti ARTO hingga akhir 2017 tercatat sebesar Rp135 miliar.

“Kami harap modal inti akhir 2018 mencapai Rp211 miliar atau naik 56,30%,” kata dia.

Sementara itu, dari sisi permodalan sangat memadai untuk mendukung ekspansi usaha di tahun 2018. CAR Perseroan pada akhir tahun 2017 tercatat sebesar 21,04%. Pencapaian CAR ini masih jauh diatas minimum ketentuan regulator, atau dengan kata lain, Perseroan masih memiliki ruang yang cukup besar untuk bertumbuh.

“Dengan tambahan dana Rp78 Miliar dari right  issue maka CAR menjadi 27,72% di tahun 2018 ini,” tambahnya.

Pada tahun ini, lanjut dia, perseroan akan berfokus pada pertumbuhan dana berimbang yang disertai dengan akselerasi pertumbuhan kredit melalui pemilihan sektor pembiayaan yang tepat, dengan tujuan untuk memaksimalkan rentabilitas Perseroan.

Adpaun salah satu upaya yang dilakukan untuk mendukung strategi tersebut adalah dengan melakukan inovasi produk dan program pemasaran yang mampu bersaing dengan situasi industri perbankan saat ini.

“Kami akan menambah tenaga pemasaran kami baik disisi pendanaan maupun perkreditan, disertai dengan inovasi produk dan program pemasaran seperti top-up program, referral program dan cross-selling program,” papar Deddy.

Sebagai gambaran, hingga akhir 2017, perseroan mampu merealisasikan kredit baru sebesar Rp137,90 milyar dan mencatatkan pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya,” papar Reinantha Yaputra, Direktur Utama Perseroan.

Sedangkan dari sisi penghimpunan dana Perseroan memperlihatkan pertumbuhan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 13,67% dibandingkan tahun 2016.

Adpaun untuk total aset perseroan tercatat sebesar Rp. 837,2 miliar, penghimpunan dana pihak ketiga sebesar Rp671,1 miliar dan penyaluran kredit sebesar Rp487,7 miliar.

Rasio-rasio keuangan Perseroan juga terjaga baik pada tingkat yang sehat dengan CAR 21,04%, NIM 4,81%, LDR 72,68% dan NPL 4,09%. Dalam kurun waktu tiga tahun kedepan, Perseroan mentargetkan pertumbuhan rata-rata total aset 7,21%, dana pihak ketiga 7,76% dan penyaluran kredit rata-rata 18,94% setiap tahunnya.

Sementara itu, pada Public Expose yang dilaksanakan pada hari yang sama, Manajemen Perseroan memaparkan target Perseroan untuk tiga tahun kedepan, dimana pada tahun 2020, Perseroan mentargetkan untuk mencapai total aset sebesar Rp1 triliun, dana pihak ketiga sebesar Rp839 miliar dan penyaluran kredit sebesar Rp821 miliar dengan target perolehan laba bersih sebesar Rp30 miliar.