BEI Ingin Pastikan OSO Sekuritas Jalani Prinsip Mengenal Nasabah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memeriksa prosedur pembukaan rekening dana nasabah pada PT OSO Sekuritas Indonesia.

Rencana itu mencuat setelah ramai diberitakan, dana Partai Hanura kubu Oesman Sapta Odang (OSO) diinvestasikan pada instrument pasar modal melalui perusahaan perantara perdagangan efek yang berkode AD Tersebut.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Hamdi Hassyarbaini menyampaikan, untuk memastikan sumber dana investasi tersebut legal, merupakan kewajiban perusahaan sekuritas saat melakukan prinsip mengenal nasabah (Know Your Costumer) sebagai salah satu syarat penting dalam pembukaan rekening dana nasabah.

"Saat buka rekening, apakah angota bursa (perusahaan efek) melakukan prosedur KYC sesuai aturan atau tidak?" kata Hamdi di Jakarta, Senin (22/1/2018).

Ia menambahkan, BEI secara rutin melakukan pemeriksaan terhadap semua anggota bursa setiap tahunnya. Hanya saja, setelah marak diberitakan adanya dana Partai Hanura yang diinvestasikan di OSO Sekuritas, maka (pemeriksaan) akan menjadi priorotasnya.

"Nah karena ini menjadi berita, bisa saja ini (OSO Sekuritas) menjadi sampling pemeriksaan kami," tutur Hamdi.

Selanjutnya, Hamdi juga ingin memastikan, saat pembukaan rekening dana nasabah terkait Partai Hanura melalui OSO Sekuritas telah memastikan siapa yang membuka rekening, profil keuangan nasabah dan sumber dana harus dipastikan dari sumber yang legal.

"OSO Sekuritas harus memastikan bahwa orang (Partai Hanura) yang ditunjuk membuka rekening itu berwenang atau tidak," terang Hamdi.

Sebelumnya, Ketua Umum Hanura kubu Manhattan, Oesman Sapta Odang (OSO) tidak membantah ada uang partai masuk ke perusahaannya, OSO Sekuritas. Namun, dia menyebut OSO Sekuritas sebagai upaya menyelamatkan uang partai.

"Itu resmi, resmi. Sekuritas itu menyelamatkan uang partai," ujar OSO di Hotel Manhattan, Kuningan, Minggu (21/12018).

Dari pantauan Pasardana.id, nilai transaksi pada bulan Desember 2017 tercatat sebesar Rp2,481 triliun atau naik 13,4% dari bulan November 2017 yang sebesar Rp2,187 Triliun.