Triwulan I 2016, Laba Garuda Indonesia Merosot Sebesar 91%

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Upaya manajemen PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) untuk mendorong pertumbuhan kinerja keuangan tampak semakin sulit. Pasalnya, hingga triwulan I 2016, perseroan mencatat penurunan kinerja signifikan. Kemerosotan keuangan GIAA antara lain, disebabkan oleh penurunan pendapatan selama Januari-Maret 2016. Pencapaian kinerja ini menjadi tantangan berat GIAA untuk menggapai target pendapatan dan laba 2016.

Berdasarkan laporan keuangan triwulan I 2016 yang diumumkan, Senin (18/4), laba GIAA mencapai US$1,02 juta pada triwulan pertama 2016. Ini merosot 91,03% dibanding periode sama 2015 sebesar US$11,4 juta. Kemerosotan laba emiten jasa transportasu udara itu antara lain disebabkan oleh penurunan pendapatan operasional GIAA sebesar 10,10%, dari US$761,91 juta jadi US$684,94 juta per Maret 2016.

Meurut manajemen, pendapatan GIAA per Maret 2016 berasal dari penerbangan berjadwal sebesar US$655,55 juta, turun 7,63% dari US$709,69 juta. Pendapatan penerbangan tidak terjadwal merosot 64,84%, dari US$30,39 juta menjadi US$10,69 juta. Sementara pendapatan GIAA lainnya turun 14,32% jadi 18,71 juta dari US$21,83 juta.

Manajemen mengatakan, beban operasional GIAA berhasil ditekan hingga turun 9,55% menjadi US$673,29 juta dari US$744,34 juta. Meski demikian, laba sebelum pajak perusahaan jasa pengangkutan udara tersebut tetap turun sebesar 33,66% menjadi US$11,66 juta dari triwulan I tahun 2015 yang mencapai US$17,57 juta.

Menurut manajemen, pada triwulan I 2016, emiten BUMN penerbangan itu telah mendatangkan 9 unit pesawat baru dari 23 unit yang akan didatangkan tahun ini. Penambahan pesawat baru akan meningkatkan frekuensi penerbangan GIAA pada 2016. Harga saham GIAA pada perdagangan sesi kedua, Senin (18/4) tercatat Rp450 per unit, turun Rp65 dibanding penutupan, Jumat (15/4) sebesar Rp515 per unit. Pemodal telah merespon negatif penurunan kinerja tersebut dengan menjual saham GIAA di BEI. (*)