Investor Melepas Kepemilikan Obligasi Rupiah

foto : istimewa

Pasardana.id - Total transaksi dan total frekuensi menurun drastis di tengah penurunan imbal hasil yang terjadi akibat ekspektasi kenaikkan fed rate.

Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi 10 - 15 tahun, diikuti dengan obligasi bertenor kurang dari 1 tahun dan 15 - 20 tahun, sisanya merata di semua tenor hingga tenor lebih dari 25 tahun.

Ekspektasi kenaikkan Fed Rate yang mungkin terjadi pada bulan Juni, serta melemahnya Rupiah membuat beberapa pelaku pasar dan investor melepas kepemilikannya obligasinya. Selain untuk merealisasikan keuntungannya, mereka juga berkesempatan untuk mendapatkan harga murah.

"Pagi ini pasar obligasi masih dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas. Hadirnya lelang esok hari, berpotensi untuk menurunkan total transaksi dan total frekuensi hari ini," jelas Maximilianus Nicodemus, Kepala Riset Pendapatan Tetap PT Indomitra Securities, Senin (23/5/2016).

Penurunan obligasi juga di dorong oleh masih lemahnya Rupiah, meskipun pagi ini dibuka menguat tipis di 13.603. Rupiah masih akan melemah seiring dengan masih kuatnya dollar AS. Pelemahan harga obligasi hari ini juga di tambah dengan melemahnya harga minyak akibat dari pernyataan Iran yang belum akan menahan ekspor minyaknya di level saat ini.

Namun pagi ini minyak di buka menguat di 48.46 yang justru akan menahan pelemahan lebih lanjut bagi pasar obligasi. Secara teknikal analisa, pasar obligasi masih akan mengalami penurunan di semua benchmark, oleh sebab itu kami masih merekomendasikan Hold. Pasar obligasi dalam negeri masih akan mengalami tekanan, oleh sebab itu menunggu adalah strategi terbaik.

Analis fixed income PT MNC Securities, I Made Adi Saputra mengatakan mengecilnya volume transaksi Jumat disebabkan pelemahan rupiah yang menembus level 13.600. Akibatnya investor memilih menjual efek berdenominasi rupiah seperti SUN. Sebagian besar memilih bersikap wait and see.

"Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yang kembali berada di atas level 13600 per dollar Amerika mendorong investor untuk melakukan penjualan Surat Utang Negara di pasar sekunder, sehingga menyebabkan terjadinya koreksi harga.

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan di akhir pekan belum mengalami adanya peningkatan. Volume Jumat senilai Rp7,98 triliun dari 30 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan.

Volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp3,07 triliun. Obligasi Negara seri FR0056 masih menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,07 triliun dari 49 kali transaksi dengan harga rata - rata pada level 103,79% dengan tingkat imbal hasil sebesar 7,82%.

Adapun Sukuk Negara Ritel seri SR006 menjadi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp800,87 miliar dari 12 kali transaksi dengan harga rata - rata pada level 101,73% dengan tingkat imbal hasil sebesar 6,48%.

Sementara itu, volume perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di akhir pekan senilai Rp879,89 miliar dari 43 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan III Astra Sedaya Finance dengan Tingkat Bunga Tetap Tahap I Tahun 2016 Seri A (ASDF03ACN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp135 miliar dari 5 kali transaksi. Obligasi dengan peringkat "AAA(idn)" dan akan jatuh tempo pada 21 Mei 2017 tersebut diperdagangkan di harga 99,93% dengan tingkat imbal hasil sebesar 8,02%.