OJK: Sektor Keuangan Terjaga pada 2015

foto : ilustrasi (ist)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas dan ketahanan sektor jasa keuangan (SJK) sepanjang 2015 masih terjaga dan memadai, meskipun pasar keuangan domestik sempat diwarnai gejolak yang dipicu oleh faktor eksternal seperti kenaikan Fed Funds Rate (The Fed), perlambatan ekonomi dunia, dan pelemahan harga komoditas. Sementara profil risiko lembaga jasa keuangan berada pada level yang manageable.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dalam siaran pers, Senin (4/1) mengemukakan, ketahanan industri perbankan cukup baik. Risiko likuiditas, kredit dan pasar LJK masih terjaga karena ditopang oleh permodalan yang cukup tinggi. Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan per Oktober 2015, sebesar 21,35% jauh diatas ketentuan minimum 8%.

Sedangkan, pada Industri Keuangan Non Bank, Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi juga terjaga pada level yang tinggi yakni 528,7% untuk asuransi jiwa dan 270,1% untuk asuransi umum. Pada perusahaan pembiayaan, gearing ratio per November 2015 sebesar 3,19 kali, jauh dari ketentuan maksimum 10 kali dan menyediakan ruang untuk pertumbuhan.

Pada sektor pasar modal, pengaruh kondisi ekonomi global dan domestik cukup mempengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian, perkembangan Reksa Dana masih positif dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) meningkat sebesar 12,17% menjadi Rp.270,84 triliun.

Selain itu, perlu juga dicatat bahwa sampai dengan Desember 2015, pasar modal telah berhasil memobilisasi dana melalui IPO saham sebesar Rp11,3 triliun, right issue saham sebesar Rp42,3 triliun, obligasi pemerintah sebesar Rp345,6 triliun dan USD500 juta, dan obligasi korporasi sebesar Rp62,4 triliun.

Pada 2015 terdapat penambahan 16 emiten saham baru dan 3 emiten obligasi baru. Selain itu, jumlah investor meningkat cukup tinggi yaitu sebanyak 69.359 investor atau meningkat sebesar 19%.

Sebagai bagian dari upaya nasional memacu pertumbuhan serta meredam gejolak yang terjadi di pasar keuangan dan membalikkan kepercayaan pelaku pasar, sepanjang 2015 OJK telah merilis serangkaian kebijakan di SJK, yang dituangkan dalam paket kebijakan di sektor keuangan serta beberapa kebijakan SJK juga menjadi bagian dari paket kebijakan ekonomi Pemerintah.

Sepanjang 2015, OJK melakukan beberapa inisiatif untuk mendukung program Pemerintah, antara lain, program Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif) yang telah didukung oleh 24.865 agen yang berhasil menjaring 1.094.362 nasabah serta dana pihak ketiga sebesar Rp 41,3 miliar; Program Jaring (Jangkau, Sinergi dan Guidelines) dimana bank berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 4,41 triliun, sedangkan perusahaan pembiayaan (lembaga keuanagn non bank) telah memberikan pembiayaan pada program Jaring sebesar Rp 252 miliar; Tabungan SIMPEL (Simpanan Pelajar) yang melibatkan 29 bank dan 1.544 sekolah dan jumlah rekening dari program ini telah mencapai 382.421 dengan total dana Rp 32,8 miliar.

Selanjutnya, OJK juga melakukan pengembangan infrastruktur dalam rangka pendalaman pasar modal; pengembangan Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (Fundnet); penyederhanaan proses dan prosedur penawaran umum; pengembangan papan perdagangan untuk UKM; penyempurnaan ketentuan penerbitan obligasi daerah; pengembangan Electronic Trading Platform Surat Utang dan standarisasi perjanjian transaksi REPO/GMRA.

Sedangkan untuk industri keuangan nonbank, OJK juga melakukan optimalisasi kapasitas asuransi dan reasuransi dalam negeri; revitalisasi modal ventura dan pengembangan asuransi mikro; serta penyesuaian uang muka pembiayaan kendaraan bermotor bagi Perusahaan Pembiayaan.

Pada sektor jasa keuangan syariah, OJK meluncurkan Road Map Perbankan Syariah, Pasar Modal Syariah dan IKNB Syariah.

"Dengan adanya road map keuangan syariah, seluruh stakeholders mempunyai guideline dalam mengembangkan dan mendorong potensi jasa keuangan syariah di Indonesia yang sangat besar", ujar Muliaman.

Berkaitan dengan perlindungan konsumen, OJK telah membentuk 7 Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa (LAPS) serta dukungan penyiapan operasionalisasi LAPS dan melaksanakan Thematic Surveillance. Untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, OJK telah melakukan program edukasi keuangan dan peluncuran buku edukasi keuangan untuk siswa SD & SMP yang berjudul "OJK dan Industri Jasa Keuangan". (*)