Reksa Dana Saham Menanti Rating S&P

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Kinerja reksa dana saham selama Mei berpotensi makin tertekan. Pasca-rilisnya data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2016 yang tidak sesuai dengan ekspektasi bahkan melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, kondisi pasar saham menjadi tertekan.

"Ada potensi tertekan," jelas Beben Feri Wibowo, analis Infovesta Utama di Jakarta, Selasa (10/5/2016) malam.

Aksi jual asing terus terjadi. Terhitung sejak 26 April hingga 9 Mei, investor asing melakukan aksi net sell Rp4,03 triliun. Ditambah isu kenaikan tingkat suku bunga The Fed maka kondisi pasar saham bisa semakin tertekan.

"Kondisi demikian bisa berdampak kurang baik terhadap kinerja reksa dana saham. Akan tetapi perlu diingat, kondisi pasar saham masih menunggu pengumuman S&P terkait rating kondisi ekonomi domestik. Jika rating S&P tersebut positif maka berpotensi memberikan sentimen positif," paparnya.

Indonesia telah mendapat rating investment grade dari Moody's dan The Fitch. Namun rating ini belum juga keluar dari S&P. Presiden Joko Widodo telah bertemu dengan pimpinan lembaga S&P Selasa dan mengatakan rating dari S&P sangat penting bagi perekonomian Indonesia.

Tahun lalu dan tahun ini kinerja reksa dana saham tidak begitu baik, dan kalah dari reksa d dana pendapatan tetap. Hal ini berdampak ke pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana saham yang hanya tumbuh tipis.

Per April 2016, AUM reksa dana saham tumbuh 3,46%. Jika dibandingkan dengan reksa dana pendapatan tetap masih lebih rendah karena reksa dana pendapatan tetap tumbuh mencapai 18,07%.

"Kondisi saat ini, memungkinkan adanya peralihan dari reksa dana saham ke reksa dana pendapatan tetap yang notebenenya memimiliki risiko lebih rendah," pungkas Beben.