BEI Wacanakan Auto Rejection Pencatatan Perdana Setara Hari Biasa

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) nampaknya serius untuk merubah batasan penolakan automatis (auto rejection) penawaran pembelian atau penjualan saham pada pencatatan perdana.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono W Widodo mengatakan, bursa telah mengerucut untuk mengatur batasan auto rejection atas dan bawah saham pada pencatatan saham perdana.

“Mungkin, tidak ada perbedaan antara Auto Rejection hari perdana batas atas dan dan batas bawah dengan hari biasa,” kata Laksono di Jakarta, Jumat (28/12/2018).

Untuk itu, kata dia, bursa akan merubah peraturan II-A tentang perdagangan efek bersifat ekuitas. Hal itu sejalan dengan rencana OJK (Otoritas Jasa Keuangan) menerbitkan peraturan e-bookbuilding.

“Jadi kita harap dengan e-bookbuiding dijalankan maka saham IPO saat pencatatan perdana tidak lompat gila-gilaan juga,” kata dia.

Untuk diketahui, batas auto rejection fraksi dengan harga pencatatan perdana Rp50 hingga Rp200 sebesar 70% dari harga penawaran. Sedangkan untuk fraksi harga pencatatan Rp200 hingga Rp5.000 batas auto rejection sebesar 50% dari harga penawaran. Adapun fraksi harga pencatatan lebih dari Rp5.000 maka batas auto rejection sebesar 40%.

Sedangkan pada hari biasa, berlaku auto rejection 35% untuk fraksi harga Rp50 hingga Rp200. Sedangkan fraksi saham Rp200 hingga Rp5.000 berlaku auto rejection sebesar 25% dan harga saham lebih dari Rp5.000 berlaku auto rejection sebesar 20%.

Bersamaan dengan itu, lanjut dia, rancangan peraturan II-A tentang perdagangan efek bersifat ekuitas juga akan merubah batas minimal harga saham Rp50.

“Yang pasti akan lebih rendah dari Rp50, tapi tidak akan saya sebutkan sampai peraturannya jadi,” kata dia.

Lebih lanjut ia menerangkan, dengan batas minimal harga saham Rp50 sebagai bentuk pasar yang tidak transparan. Pasalnya, banyak transaksi saham terutama di pasar negosiasi di bawah Rp50.