Lagi, Benny Tjokro Suntik Modal MYRX Senilai Rp149,9 Miliar

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Komisaris Utama PT Hanson International Tbk (MYRX), Benny Tjokrosaputro kembali menambah modal perseroan senilai Rp149.999.700.000 melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement.

Hal itu tertuang dalam keterbukaan informasi perseroan pada laman Bursa Efek Indonesia, Kamis (18/1/2018).

Dijelaskan, private placement itu dilakukan pada tanggal 16 dan 17 Januari 2018 . Dalam aksi korporasi itu, perseroan menerbitkan 1.181.100.00 lembar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp127 per lembar saham.

Dana hasil aksi korporasi itu, akan digunakan untuk melakukan penambahan modal disetor di anak usaha yang bergerak dibidang properti, yakni PT Mandiri Mega Jaya (MMJ). Dan oleh MMJ dana itu akan digunakan untuk menambah lahan baru.

Sebelumnya, Benny telah melakukan penambahan modal sebanyak tiga kali, pertama pada tanggal 8 Desember 2017 dengan menambah kepemilikan saham sebanyak 1.574.400.000 lembar dengan harga Rp127 atau senilai Rp199.948.800.000.

Berikutnya, pada tanggal 5 Januari 2018 dengan membeli 1.968.500.000 lembar saham MYRX dengan harga Rp127. Sehingga dia mengelontorkan dana Rp249.999.881.000 pada emiten property itu.

Tahap ketiga, terjadi pada tanggal 10-11 Januari 2018,  dengan mengambil 1.574.400.000 lembar saham pada harga Rp127 dan dia harus merogoh koceknya sebesar Rp199.948.800.00.

Hal itu dilakukan Benny untuk memenuhi kewajiban hasil  rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) MYRX pada tanggal 23 November 2017.

Dalam RUPSLB itu disetujui pelaksanaan private placement ini merupakan bagian dari rencana MYRX menerbitkan 7,98 miliar saham atau 10% dari modal disetor dengan nilai nominal saham tersebut Rp22 dengan harga pelaksanaan Rp 127 per saham.

Selanjutnya, Benny Tjokrosaputro mengambil seluruh saham baru seri C tersebut atau akan menyuntik modal sekitar Rp 1,01 triliun ke MYRX.

Saat ini, Benny memiliki 8,32 miliar saham seri C atau mewakili 10,42% dari modal disetor per 30 September 2017.