Solusi Kongkret Atasi Kerugian Garuda Indonesia

foto: doc BPP Hipmi

Pasardana.id - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terus merugi dan muncul tanda kebangkrutan bila tidak ada solusi kongkret. Hal ini tercermin dari hasil laporan keuangan Garuda Indonesia yang mencatatkan kerugian sebesar US$283,7 juta  atau sekitar Rp3,8 triliun. 

Angka tersebut meningkat hingga 200% dari kerugian pada kuartal pertama sekitar US$99 juta setara  Rp1,32 triliun. 

Menangapi hal ini, Ketua Bidang Organisasi Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Anggawira menyarankan ke depannya harus ada solusi komprehensif agar tidak terus merugi.

“HIPMI sebelumnya sudah memberikan early warning kepada Garuda Indonesia karena terus merugi. Ke depannya perlu ada solusi yang komprehensif agar maskapai penerbangan kebanggaan kita ini bisa survive. Kerugian tersebut disinyalir akibat peningkatan biaya operasional dan pembelian bahan bakar avtur, ujar Anggawira di Jakarta, Kamis (10/8/2017).

Ongkos operasional penerbangan Garuda Indonesia, disebutkan oleh Anggawira mencapai lebih dari dari Rp16 triliun lebih tinggi dari kuartal pertama sebesar Rp8 triliun.

“Hingga saat ini kami melihat biaya bahan bakar merupakan sumber terbesar biaya operasional dengan presentase diatas 50% kemudian disusul dengan biaya pembelian pesawat, reparasi, pembayaran asuransi yang semua dihitung menggunakan kurs dollar sementara produk jasa penerbangan domestiknya dijual dengan nilai rupiah, papar Anggawira.

Tingginya ongkos operasional rupanya juga berpengaruh pada utang Garuda Indonesia yang nilainya cukup besar. Untuk utang jangka pendek di kuartal kedua total utang mencapai US$1,89 juta sedangkan utang jangka panjang sebesar US$1,16 juta.  Sementara di kuartal sebelumnya tercatat US$1,798 juta untuk utang jangka pendek dan US$1,17 juta untuk utang jangka panjang.

“Utang yang membelit Garuda Indonesia harus menjadi konsen pemerintah, imbuh Anggawira.