Indonesia Bisa Stop Ekspor CPO ke AS dan Eropa

foto : istimewa

Pasardana.id - Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) menyatakan, Indonesia bisa saja tidak perlu melakukan ekspor crude palm oil/CPO (kelapa sawit) ke Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Pasalnya, China, negara yang juga menjadi sasaran ekspor CPO Indonesia, membutuhkan CPO dengan campuran solar (B5) yang cukup besar yakni sebesar 9 juta ton.

“Angka ini berasal dari perhitungan kebutuhan bahan bakar solar China sebesar 180 juta kilo liter," kata MP Tumanggor, Ketua Umum APROBI di Jakarta, akhir pekan lalu,

Sebelumnya, sebanyak 3,8 juta ton CPO telah diekspor ke Negeri Tirai Bambu ini pada 2016.

Sahat Sinaga, Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia, menambahkan, pengusaha China akan ditawarkan mendirikan pabrik biodisel di Indonesia. Ini juga telah dilakukan Indonesia di China.

“Harga mau dipatok sama tergantung kerja samanya," ujarnya.

Masalah CPO akan dibicarakan delegasi Indonesia dengan China yang akan dipimpin Menteri Koordinator (Menko) Maritim Luhut Panjaitan.

Hal ini sebagai tindak lanjut pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping beberapa waktu lalu.

Sementara itu, ekspor CPO Indonesia ke AS dan Eropa, jelas Sahad, tidak kompetitif sejak pemberlakukan tarif bea masuk. Apalagi AS keluar dari kesepakatan COP21 yang berarti negara ini tidak punya kewajiban mencampur biodiesel.

“Kebijakan antidumping Amerika Serikat juga dialamatkan kepada produk biodiesel Indonesia," tandasnya.