Tiga SRO Pasar Modal Kumpulkan Pendapatan Rp3,5 Triliun

foto : istimewa

Pasardana.id - Ketiga Self Regulatory Organitation (SRO) di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) telah meraup dana hasil kinerjanya sebesar Rp 3,5 triliun.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio mengatakan, dana tersebut akan dikembalikan ke industri pasar modal sebagai bagian dari strategi pendalaman pasar modal.

"Dana itu, nantinya akan kita kembalikan ke industri (pasar modal)," kata Tito, di Jakarta, Rabu (8/3/2017).

Adapun mekanisme pengembalian dana tersebut, jelas dia, dengan membesarkan PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI), sebagai anak usaha yang baru dibentuk ketiga SRO itu.

"Kita besarkan Securities Financing (PEI). Sehingga dia bisa membiayai perusahaan sekuritas yang MKBD (Modal Kerja Bersih Disesuaikan) di atas Rp250 miliar. Nantinya bunga maksimalnya sekitar 7-8%. Itu bentuk yang kita kembalikan ke industri," tutur Tito.

Rencananya, lanjut dia, April 2017 ini PEI sudah bisa melakukan pembiayaan ke industri pasar modal. Makanya, BEI pun siap menerbitkan tiga produk di bawah PEI ini.

"Tiga produk utama yang akan dikembangkan, seperti margin financing, lending and borrowing share, dan untuk membiayai proses IPO (initial public offering)," kata dia.

Namun demikian, program tersebut masih dalam pengkajian substansi dan teknisnya. Kedua produk pertama, terang dia, akan ada di tahun ini.

Cuma untuk yang pembiayaan IPO itu, belum akan berlangsung di tahun ini.

"Masih lama. Mungkin tahun depan. Dan kita fokus untuk IPO UKM saja," ujar Tito.

Sementara itu, dari sisi kinerja BEI sendiri di 2016, menurut dia, dari laba bersih tercatat sebesar Rp344,8 miliar atau naik 192,37 persen dibanding 2015.

Kenaikan laba ini karena adanya kenaikan pendapatan yang signifikan di 2016 yaitu Rp1,42 triliun atau meningkat 34,5 persen.

"Apalagi kenaikan nilai rata-rata transaksi harian BEI 2016 sebesar Rp7,49 triliun yang meningkat dibanding 2015 sebesar Rp5,76 triliun," pungkas dia.