IHSG Turun Jelang Penutupan, BEI Minta Keterangan Lima Broker

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan meminta keterangan kepada anggota bursa (AB) yang menjadi broker perdagangan saham-saham yang turun tajam jelang penutupan (pre closing) dan menyeret IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) ke zona merah.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Alpino Kianjaya mengatakan, selama dua bulan belakangan ini kerap terjadi penurunan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) jelang penutupan (pre closing) karena terseret oleh turunnya saham-saham penggerak pasar atau big caps.

"Contohnya perdagangan Jumat kemarin, sepanjang hari IHSG hijau namun turun tiba-tiba pada jelang penutupan (pre closing) akibat turunnya saham-saham big caps padahal pada penutupan sesi pertama indeks berada di zona hijau," terang Alpino di Jakarta, Senin (13/2/2017).

Ia menjelaskan, pihaknya sudah mengindetifikasi broker yang nasabah-nya melakukan pelepasan saham-saham big caps disaat jelang penutupan (pre closing). Untuk itu, pihaknya akan meminta keterangan kepada broker yang dimaksud, terkait transaksi tersebut.

"Saya lihat ada lima broker. Mereka adalah asing (broker ). Kami akan proses dan nama-nama yang melakukan sudah di tangan kami," terang dia.

"Hari ini kami mulai panggil mereka (broker ) untuk minta keterangan apa yang menjadi motif transaksi tersebut," sambung dia.

Sebelumnya, analis NH Korindo Sekuritas, Bima Setiaji menyatakan, penuruan IHSG pada saat jelang penutupan perdagangan Jumat (10/2/2017) lalu, lebih didorong oleh aksi jual investor asing terhadap saham PT BCA Tbk (BBCA) dan PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk (INTP).

Bahkan ulah investor tersebut diduga melakukan marking the close down atau pembentukan harga bawah.

"Transaksi tersebut terjadi di pre closing," terang Bima kepada Pasardana.id, di Jakarta, Jumat (10/2/2017).

Masih menurut Bima, transaksi yang terjadi menjelang penutupan itu atau antara pukul 15.50 WIB hingga 16.00 dilakukan melalui JP Morgan dengan kode broker BK untuk saham BBCA dan saham bank tersebut tercatat jual bersih Rp22,1 miliar.

"Sedangkan saham INTP tercatat mengalami jual bersih Rp14,7 miliar dan transaksi itu melalui Morgan Stanley dengan kode broker MS," terang dia.

Dari pantauan Pasardana.id, saham BBCA sebelum pre closing hanya mengalami penurunan 0,16% atau pada level 15.600, namun setelah pre closing turun 4%. Sedangkan INTP, sebelum pre closing turun 0,63% namun setelah pukul 16.00 turun 5,48% ke level 15.100.

Terkait pernyataan itu, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Hamdi Hassyarbaini menyatakan, bahwa kondisi tersebut harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum dikatakan sebagai transaksi marking the close.

"Kami harus periksa dulu apa tujuan mereka menjual dengan harga dibawah dan apa motifnya," terang dia.

Ia menjelaskan, transaksi marking the close umumnya dilakukan investor untuk penentuan harga dan hanya melepas satu hingga dua lot saham.

"Umumnya mereka (pelaku) tidak mau banyak-banyak keluar modal," terang dia.

Namun, jika transaksi tersebut tergolong marking the close, jelas dia, maka pelaku tergolong melanggar pasal 91 UU Pasar modal.