Morgan Stanley: 2018, Indonesia Dalam Jalur Pemulihan Bertahap

foto: istimewa

Pasardana.id - Lembaga keuangan Morgan Stanley melihat pemulihan global kemungkinan akan mendapatkan momentum dan keleluasan pada tahun 2018 berkat kebijakan moneter yang masih akomodatif dan stimulus fiskal yang lebih besar.

Pada riset Morgan Stanley yang dirilis Selasa (28/11/2017), dari ekonom: Elga Bartsch, Chetan Ahya, Jonathan Ashworth, dan Nora Wassermann, mengenai prospek makro global tahun 2018 yang berjudul, 'Stronger for Longer', Morgan Stanley menguraikan.

1.Pertumbuhan - langkah solid di Developed Market (DM), percepatan di Emerging Market

(EM)Pemulihan global akan berlanjut pada 2018 dan kemungkinan akan semakin meningkat seiring momentum kenaikan EM. Siklus bisnis yang baik menyebabkan pertumbuhan DM melambat pada 2019, namun tetap berada diatas potensi yang ada. AS dan Cina saat ini sudah lewat masa akhir siklus atau late-cycle, sedangkan kawasan Eropa dan Jepang berada di tengah siklus atau mid-cycle dan eksportir komoditas EM berada di awal siklus. 

2.Inflasi - bergerak naik, tapi tidak melampaui target

Inflasi umum atau headline inflation yang dialami DM akan cenderung meningkat pada tahun 2018. Kecuali inflasi di Inggris, inflasi DM tidak mungkin bergerak di atas target bank sentral. Sementara itu, inflasi EM akan meningkat dan kondisi ini akan dipimpin kawasan Asia.

3.Perluasan kebijakan - berkurangnya ekspansi moneter, stimulus fiskal lebih banyak

Kebijakan moneter diproyeksikan akan tetap ekspansif di tahun 2018. Pengurangan neraca dan kenaikan suku bunga membuat Federal Reserve sedikit melampaui kenetralannya, tapi baru pada tahun 2019. Kebijakan fiskal cenderung menjadi sedikit lebih ekspansif di beberapa negara ekonomi utama DM, termasuk Amerika Serikat.

4.Resiko - inflasi lebih cepat, keuangan yang lebih ketat, proteksionisme perdagangan

Risiko utama berkaitan dengan perkiraan atas sisa kelonggaran ekonomi secara tepat dan mengantisipasi tekanan upah akibat semakin penuhnya pasar tenaga kerja oleh mereka yang sudah dipekerjakan. Terakhir, gangguan perdagangan global dapat melemahkan rebound dalam bentuk capex dan produktivitas yang terjadi baru-baru ini.

Morgan Stanley memproyeksikan bahwa ekonomi global akan mendapatkan momentum sedikit lebih banyak di tahun 2018, yang mencerminkan pertumbuhan DM yang kuat dan kenaikan dalam pertumbuhan PDB EM. Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhan PDB global akan terdorong di atas rata-rata jangka panjangnya sebesar 3,5% Y menjadi 3,8% Y tahun depan, tingkat pertumbuhan terkuat sejak 2011.

Pada riset ini, Morgan Stanley juga menyebutkan bahwa Indonesia berada di jalur pemulihan bertahap. Morgan Stanley juga melihat beberapa faktor risiko mendatang, seperti risiko pemilu, laju reformasi struktural, lingkungan pendanaan global dan harga komoditas.

Morgan Stanley mengharapkan jalur pemulihan dengan pertumbuhan PDB yang mencapai 5,4% Y pada tahun 2018 dan 5,5% Y pada tahun 2019.