ANALIS MARKET (09/10/2017) : IHSG Bergerak Pada Kisaran Mixed Hari Ini

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Riset harian Kiwoom Sekuritas memperkirakan, indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak pada kisaran mixed hari ini.

Beberapa faktor mendasari prediksi ini, antara lain; Dow Jones turun 1.7 poin ditutup pada level 22,773.7. Harga minyak dunia turun hampir 3% ditutup pada level US$ 49.3 per barrel hari Jumat dipicu kenaikan US Dollar index yang turut menekan Rupiah menjadi kisaran Rp 13,500 per US$ pagi hari ini.

EIDO turun 1.2% hari Jumat pada level 26.51 berpotensi menekan perdagangan IHSG pada sesi pembukaan hari ini. 

Sebelumnya, Candlestick IHSG terlihat membentuk pola bullish harami ditutup pada garis diagonal support kuat sehingga berpotensi mengalami teknikal rebound

“Namun demikian masih berlanjutnya aksi jual investor asing dapat membatasi potensi penguatan sehingga kami memperkirakan IHSG bergerak pada kisaran mixed hari ini," sebut analis Kiwoom Sekuritas yang dilansir dari laman resminya, Senin (09/10/2017).

Lebih lanjut, riset juga menyebutkan beberapa sentimen dan aksi korporasi dari para emiten juga layak untuk dicermati diperdagangan hari ini, antara lain;

Proyek Reklamasi Jakarta 
Pemerintah resmi mencabut moratorium pengembangan reklamasi di Pantai Utara Jakarta. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Panjaitan mengungkapkan, pihaknya telah menerbitkan Surat Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Nomor 78-001/02/Menko/Maritim/X/2017 yang isinya mencabut surat keputusan Menko Maritim No 27.1/Menko/Maritim/IV/2016 yang menghentikan sementara pembangunan reklamasi.

Dengan berlakunya pencabutan itu maka para pengembang proyek reklamasi dapat melanjutkan pembangunan proyek reklamasi yang sempat terhenti.

Pencabutan moratorium dilakukan setelah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menerbitkan Keputusan tentang pencabutan sanksi administratif di Pulau C,D, dan G karena pengembang telah memenuhi persyaratan Amdal. 

IPO - PT M Cash Integrasi 
PT M Cash Integrasi, anak usaha PT Kresna Graha Investama (KREN), akan menggelar IPO dengan menjual 216.98 juta lembar saham (25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh). Harga penawaran berada di kisaran Rp 1,300-Rp 1,450 sehingga dana IPO mencapai Rp 282 Miliar hingga Rp 314 Miliar.

Sekitar 60% dana IPO akan digunakan untuk keperluan belanja modal, 30% untuk membeli mesin, software, serta perangkat infrastruktur teknologi informasi (TI), dan 10% untuk pengembangan.

Perusahaan menunjuk Trimegah Sekuritas sebagai penjamin emisi efek. Bookbuilding akan berlangsung pada 6-13 Oktober 2017 dengan target mendapat pernyataan efektif dari OJK pada 20 Oktober sehingga M Cash diharapkan dapat resmi tercatat di BEI pada 31 Oktober 2017. 

ADHI - Pembangunan LRT 
PT Adhi Karya (ADHI) mengalokasikan dana belanja modal senilai Rp 2 Triliun hingga akhir tahun ini untuk membangun proyek kereta ringan (light rail transit/LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi.

Dengan demikian hingga akhir tahun ADHI diproyeksikan mengeluarkan dana Rp 7 Triliun untuk pembangunan LRT. Proses konstruksi saat ini mencapai 22% dan diproyeksikan mencapai 35% pada akhir tahun 2017. ADHI menargetkan mendapai pembayaran atas progres konstruksi proyek LRT senilai Rp 4 Triliun pada akhir tahun ini atau 1Q 2018.

Proyek LRT selama ini menggerus arus kas ADHI dimana nilai arus kas netto dalam laporan keuangan 1H 2017 tercatat senilai minus Rp 2.76 Triliun. 

APLN - Akuisisi PT Pesona Mitra Kembar Mas 
PT Agung Podomoro Land (APLN) melalui anak usahanya PT Central Tata Makmur mengakuisisi 55% saham PT Pesona Mitra Kembar Mas. Kedua belah pihak telah menandatangani transaksi antara lain akta jual beli saham atas 38% saham dan 17% saham pengikatan jual beli.

Penyelesaian pembelian saham akan dilakukan setelah seluruh syarat dalam pengikatan jual beli saham terpenuhi, paling lambat pada Desember 2017. Sementara itu, APLN membukukan pendapatan sebesar Rp 3.9 Triliun sepanjang 1H 2017 naik 34.7% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 2.9 Triliun. 

WSKT - Rencana ekspansi 
PT Waskita Karya (WSKT) menargetkan dapat menambah konsesi ruas tol baru sepanjang 300 Km dalam 2 tahun kedepan yang diperkirakan membutuhkan dana senilai Rp 10 Triliun. Langkah yang akan diambil untuk mendapatkan modal adalah menjual saham anak perusahaan, PT Waskita Toll Road (WTR) melalui proses IPO yang akan dilakukan pada 1H 2019.