Monarch Airlines Jadi Korban Persaingan Harga

foto: istimewa

Pasardana.id - Maskapai penerbangan Inggris Monarch Airlines berhenti beroperasi pada Senin (2/10/2017), setelah menjadi korban ketatnya persaingan harga dan pelemahan pound sterling.

Penutupan Monarch berpengaruh terhadap 900.000 penumpang secara total. Sekitar 100.000 penumpang yang berada di luar Inggris harus dipulangkan melalui upaya repatriasi terbesar dalam keadaan damai yang pernah dilakukan dalam sejarah Negeri Ratu Elizabeth.

Berhenti beroperasinya Monarch menambah turbulensi dalam industri penerbangan Eropa, setelah sebelumnya Air Berlin dan Alitalia juga telah menghentikan penerbangan. Ryanair, meski masih beroperasi, harus membatalkan ribuan penerbangan karena kesulitan mencari pilot yang bersedia bekerja untuk maskapai penerbangan Irlandia tersebut.

Saham perusahaan-perusahaan rival Monarch, seperti easyJet, Ryanair, dan Wizz Air naik pada Senin dengan prospek berkurangnya kompetisi dan peluang untuk mengakuisisi aset Monarch.

Monarch yang mulai beroperasi sejak 1968 telah membatalkan 750.000 pemesanan tiket dan melakukan permintaan maaf terhadap para konsumen dan staf.

“Saya sangat menyesalkan harus dibatalkannya penerbangan untuk liburan maupun urusan bisnis, tertundanya konsumen pulang ke rumah, dan segala ketidaknyamanan yang ditimbulkan dari berhenti beroperasinya penerbangan kami. Saya sangat menyesal semuanya harus berakhir seperti ini," ungkap CEO Monarch Andrew Swaffield dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters.

Sekitar 90 persen dari 2.100 karyawan Monarch diberhentikan pada Senin. Keuangan Monarch mulai mengalami masalah pada 2016 lalu, setelah masalah keamanan membuat penerbangan ke Tunisia, Turki, dan Mesir mengalami kendala. Selain itu melemahnya pound juga mempengaruhi keuntungan perusahaan. Proses bailout telah dilakukan Greybull Capital sebagai pemilik Monarch pada tahun lalu.