Pro-Kontra Komisi XI DPR Tentang JP Morgan

foto : istimewa

Pasardana.id - Sebagian anggota Komisi XI DPR menilai pemutusan JP Morgan Bank bukan sebagai bank persepsi lagi oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) per 1 Januari 2016, dinilai sebagai langkah tepat. Karena, riset yang dirilis JP Morgan tidak kredibel, bahkan tidak sesuai dengan keadaan fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya.

"Rekomendasi dari overweight menjadi underweight bermuatan misi politik Amerika Serikat," kata Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Donny Priambodo di Jakarta, kemarin.

Misi politik AS yang dimaksud adalah menunjang kembalinya modal berbentuk dollar AS ke negara Paman Sam tersebut.

Asal tahu saja, seminggu setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS yakni 9-14 November 2016, sebanyak Rp16 triliun dana asing ke luar dari Indonesia disebutkan Bank Indonesia (BI).

'Rupiah di November 2016 anjlok Rp13.800," ujarnya.

Untuk menstabilkan kondisi ini, dilakukan intervensi pasar oleh Bank Indonesia (BI) yang menguras cadangan devisa, hingga tersisa US$3,5 miliar.

Namun, Wakil Ketua Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan meminta Kemenkeu menjelaskan pemutusan JP Morgan Bank tidak menjadi bank persepsi lantaran hasil riset yang dikeluarkan. Karena, keputusan ini dinilai reaktif yang berakibat pandangan negatif oleh investor lain.

"Indonesia sangat membutuhkan investor dalam penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) untuk menutupi defisit APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) yang melebar," jelasnya.

Isi riset yang dikeluarkan JP Morgan, ujar Marwan, sebaiknya dijadikan peringatan dini atas kondisi perekonomian Indonesia. Jadi, ini tidak dihadapi dengan kebijakan yang diambil sekarang.

"Pemerintah dapat mengantisipasi gejolak yang terjadi tersebut," jelasnya.

Adapun JP Morgam dinilai sebagai lembaga riset keuangan internasional yang menerbitkan pandangannya secara profesional, akuntabilitas, bertanggugjawab, dan terbuka.

Hasil riset yang dimaksud adalah kenaikan imbal hasil dari 1,85% menjadi 2,15% pada surat utang tenor 10 tahun pasca terpilihnya Trump akan berakibat gejolak di pasar obligasi dan risiko premium di pasar negara-negara berkembang.

Kenaikan Credit Default Swaps (CDS) juga akan terjadi pada Indonesia. Kemudian, kondisi ini memicu arus dana keluar dari Tanah Air.

Dengan begitu, JP Morgan menyarankan pengalokasian ulang portofolio para investor. Apalagi, level ini diturunkan menjadi underweight dari overweight.