Imbal Hasil SUN Cenderung Turun

foto : istimewa

Pasardana.id - Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Selasa (2/8/2016) kemarin, masih bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan didorong oleh hasil positif dari pelaksanaan lelang pejualan Surat Utang Negara.

Perubahan tingkat imbal hasil berkisar antara 1 - 14 bps dengan rata - rata mengalami penurunan sebesar 4 bps dimana imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang yang mengalami penurunan lebih besar dibandingkan dengan yang didapati pada tenor pendek.

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami perubahan berkisar antara 1 - 3 bps dengan didorong oleh perubahan harga yang berkisar antara 2 - 10 bps.

Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan berkisar antara 2 - 5 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga yang berkisar antara 7 - 20 bps. Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) mengalami perubahan berkisar antara 1 - 5 bps dengan didorong oleh adanya perubahan harga yang berkisar antara 5 - 150 bps.

Analis Obligasi MNC Securities, I Made Saputra dalam laporan risetnya yang diterima Pasardana.id, Rabu (3/8/2016) mengungkapkan bahwa, harga Surat Utang Negara yang kembali mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin didorong oleh hasil positif dari pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara yang diadakan oleh Kementrian Keuangan.

"Pada lelang kemarin, total penawaran yang masuk senilai Rp45,88 triliun lebih tinggi dari estimasi kami yang perkirakan berkisar antara Rp20 - 25 triliun," ungkapnya.

Dari penawaran tersebut, lanjut dia, pemerintah memutuskan untuk memenangkan lelang senilai Rp18 triliun.

Setelah pelaksanaan lelang, harga Surat Utang Negara di pasar sekunder mengalami kenaikan dikarenakan investor yang tidak mendapatkan alokasi lelang berusaha untuk mendapatkannya di pasar sekunder.
 
Secara keseluruhan, kenaikan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin mendorong terjadinya penurunan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan sebesar 5 bps untuk tenor 5 tahun di level 6,62%, sebesar 5 bps untuk tenor 10 tahun di posisi 6,81%, sebesar 1 bps untuk tenor 15 tahun di posisi 7,14% dan sebesar 1 bps untuk tenor 20 tahun di posisi 7,25%.

Sementara itu, dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi dollar Amerika, tingkat imbal hasilnya pada perdagangan kemarin terlihat mengalami kenaikan yang terjadi pada hampir keseluruhan seri. Imbal hasil dari INDO-20 mengalami kenaikan sebesar 1 bps pada level 2,35%. Sedangkan imbal hasil dari INDO-26 dan INDO-46 masing - masing mengalami kenaikan sebesar 6 bps dan 3 bps di level 3,299% dan 4,38% setelah mengalami koreksi harga yang sebesar 55 bps.

Adapun volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp14,92 triliun dari 35 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan, dimana untuk seri acuan, volume perdagangan yang dilaporkan sebesar Rp8,81 triliun.

Obligasi Negara seri FR0073 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,51 triliun dari 105 kali transaksi dengan harga rata - rata di level 114,24% dengan tingkat imbal hasil sebesar 7,17%. Sementara itu Obligasi Negara seri FR0072 menjadi Surat Utang Negara yang paling aktif diperdagangkan, sebanyak 132 kali transaksi dengan volume perdagangan sebesar Rp1,14 triliun.

Sementara itu, Sukuk Negara Ritel seri SR006 menjadi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp593,37 miliar dari 11 kali transaksi di harga rata - rata 101,59%. Dari transaksi obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp362,1 miliar dari 23 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Subordinasi Bank Panin III Tahun 2010 (PNBN04SB) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp90 miliar dari 4 kali transaksi. Obligasi dengan peringkat "idAA-" dan akan jatuh tempo pada 9 November 2017 tersebut diperdagangkan pada harga rata - rata 100,84% dengan tingkat imbal hasil sebesar 9,78%.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup melemah sebesar 43,00 pts (0,33%) pada level 13090,00 per dollar Amerika. Mengalami pelemahan sejak awal perdagangan, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika bergerak dengan mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 13048,00 hingga 13100,00 per dollar Amerika.

Nilai tukar mata uang regional pada perdagangan kemarin bergerak bervariasi dimana mata uang yang mengalami pelemahan terhadap dollar selain rupiah diantaranya adalah Ringgit Malaysia (MYR), Won Korea Selatan (KRW) dan Dollar Taiwan (TWD). Sementara itu, nilai tukar Yen Jepang (JPY) memimpin penguatan mata uang di kawasan regional setelah pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan stimulus termasuk diantaranya kebijakan fiskal sebesar JPY13,5 triliun serta anggaran belanja sebesar JPY7,5 triliun.