Pertumbuhan Penjualan Ritel di Jepang Alami Hambatan

foto : istimewa

Pasardana.id - Pertumbuhan penjualan ritel di Jepang terhambat, menunjukkan pelemahan pada konsumsi pribadi dan meningkatnya kemungkinan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akan menunda rencana kenaikan pajak penjualan yang sedianya berlangsung tahun depan.

Tingkat penjualan tidak berubah pada April dari bulan sebelumnya, seperti tertuang dalam laporan pemerintah Jepang Senin (30/5/2016). Rata-rata perkiraan ekonom yang disurvei oleh Bloomberg adalah terjadi penurunan 0,6 persen. Dari setahun sebelumnya, tingkat penjualan turun 0,8 persen, dibandingkan dengan penurunan 1,2 persen yang diprediksikan dalam survei.

Abe menyebutkan dalam pertemuan G-7 pekan lalu bahwa ada resiko signifikan terhadap kejatuhan ekonomi dunia sehingga menjadi seperti saat krisis keuangan 2008. Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa Abe akan menunda peningkatan pajak penjualan. Pada 2014, peningkatan pajak penjualan menyebabkan terjadinya resesi.

"Penjualan ritel tidak mengindikasikan perekonomian Jepang akan mendapatkan pemulihan yang solid atau inflasi akan naik. Kami masih jauh dari rasa optimis tentang pengeluaran konsumen. Saya memperkirakan pemulihan pengeluaran konsumen terjadi secara bertahap," kata Hiroshi Miyazaki, ekonom Mitsubishi UFJ Morgan Stanley di Tokyo.

Menurut penasihat PM Jepang, Hakubun Shimomura, Jepang harus menunda rencana kenaikan pajak penjualan sampai 2019 agar pemulihan ekonomi dapat berlangsung. Hal ini dikatakan Shimomura dalam sebuah wawancara yang disiarkan stasiun televisi Fuji pada akhir pekan lalu.

Yen melemah 0,6 persen terhadap dolar AS menjadi 110,98 per dolar AS pada pukul 11.58 waktu Tokyo, sedangkan indek Topix naik 0,7 persen.