Singapura Pegang Nilai Industri Asuransi Terbesar

foto : istimewa

Pasardana.id - Total aset industri asuransi umum di Asia Tenggara tercatat sebesar US$ 66,1 miliar pada 2015. Angka ini 17% dari total aset industri asuransi di ASEAN.

Adapun Singapura menempati urutan pertama total aset industri asuransi di Asia Tenggara yakni sebesar US$ 148,84 miliar pada tahun lalu. Kemudian disusul Thailand, yang tercatat sebesar US$ 83,95 miliar dan disusul Malaysia sebesar US$ 55,70 miliar.

ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Indonesia berada di posisi empat sebesar US$ 45,42 miliar,ââÅ¡¬ kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Darmansyah Hadad di Jakarta, belum lama ini.

Total aset industri asuransi di Indonesia sebesar Rp 853,42 triliun pada 2015. Dari angka itu, industri asuransi jiwa sebesar 44,29% atau Rp 378,03 triliun, industri asuransi sosial Rp 226,92 triliun dan industri asuransi umum Rp 124,01 triliun.

Padahal, mayoritas industri asuransi di Tanah Air adalah asuransi umum sebesar 80 perusahaan. Kemudian, industri asuransi jiwa sebesar 55 perusahaan dan industri reasuransi sebanyak 6 perusahaan.

Selanjutnya, industri asuransi wajib 3 perusahaan dan industri asuransi sosial sebanyak 2 perusahaan.

Sementara itu, total pendapatan premi industri asuransi di Asia Tenggara sebesar US$ 87,9 miliar pada 2015. Jika dibandingkan 2014, angka tersebut naik 8,1%.

ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Singapura berada di urutan nomor satu pendapatan premi sebesar US$ 24,2 miliar,ââÅ¡¬ ujarnya.

Adapun Thailand berada di posisi kedua dengan nilai sebesar US$ 19,1 miliar dan selanjutnya dipegang Indonesia sebesar US$ 12,9 miliar.

ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Peningkatan total pendapatan premi di Indonesia didukung dengan pertumbuhan industri asuransi syariah,ââÅ¡¬ jelasnya.

Data Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menyebutkan, premi diperoleh sebesar Rp 8,8 triliun per September 2016. Jika dibandingkan waktu yang sama tahun lalu, naik sebesar 15,6%.

Adapun total pendapatan premi di Indonesia sebesar Rp 247,29 triliun pada 2015. Jika melihat tahun lalu, naik 19,5%. Dari angka ini, rasio antara premi bruto dan Gross Premium Bruto (GDP) meningkat dari 2,35% menjadi 2,56%.