Dua Hari IHSG Rontok 6,6%, OJK Panggil Direksi BEI

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Dalam dua perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan sentimen 'Trump'.

Pada Jumat (11/11/2016 ) IHSG turun 4,01% dan pada penutupan perdagangan sesi I Senin (14/11/2016) turun 2,63% ke level 5094,26. Melihat kondisi itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memanggil jajaran Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal itu disampaikan Direktur Utama BEI, Tito Sulistio di Jakarta, Senin (14/11/2016).

"Jam 18.00, kami dipanggil OJK untuk menerangkan kondisi pasar dan langkah-langkah yang akan diambil sesuai capital market protokol," terang dia.

Ia menjelaskan, selain Direksi BEI, OJK ikut memanggil Direktur Utama Bank-Bank BUKU IV (Bank Umum Kategori Usaha).

Namun, Tito menjelaskan, pihaknya belum menjalankan capital market protokol, pasalnya beberapa indikator untuk tercapai syarat untuk itu belum terpenuhui.

"Misalnya jika IHSG turun 10% dalam satu hari, maka BEI akan melakukan suspend seluruh perdagangan dalam rangka menenangkan pasar," terang dia.

Bahkan dia menilai, laju IHSG secara years to date (ytd) masih mencatakan pertumbuhan 11,49%, hanya dibawah pertumbuhan bursa efek Thailand yang tercatat sebesar 16,07%.

Selain itu, lanjut Tito, saham-saham yang mengalami tekanan jual terbesar datang dari 10 emiten berkapitalisasi terbesar atau big cap yakni HMSP, TLKM, BBCA, UNVR, ASII, BBRI, BMRI, GGRM, ICBP dan BBNI.

"Namun 10 emiten itu memiliki fundamental baik dan masih mencatatkan pertumbuhan 11,35%," terang dia.

Lebih jauh dia mengatakan, fenomena aksi jual terhadap emiten saham-saham kakap itu karena sentimen 'Trump Effect' sesaat, sehingga menimbulkan ketidakpastian sehingga investor berpikir jangka pendek (short term).

Seperti banyak disampaikan analis pasar modal lainnya, pelaku pasar memperkirakan akan terjadinya kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserves. Hal itu dikarenakan untuk meredam inflasi tinggi akibat pertumbuhan ekonomi AS (Amerika Serikat) yang akan mengeliat setelah adanya akselerasi belanja pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump.  

"Sehingga diprediksi bisnis keuangan akan terkena dampak lebih dahulu," terang dia.

Sedangkan langkah - langkah yang akan dilakukan BEI, yakni dengan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap transaksi, terus menambah persedian emiten-emiten dengan fundamental baik dan meningkatkan kapasitas anggota bursa.