Diterjang Beban, Weha Transportasi Indonesia Merugi Rp18,54 Miliar

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Persaingan bisnis jasa transportasi darat di Indonesia tampak semakin ketat. Akibatnya, hanya pemain tangguh bermodal 'kuat' yang mampu bertahan di tengah lonjakan harga suku cadang dan kenaikan bahan bakar minyak (BBM).

Sementara pemain menengah dan kecil tampak berguguran karena tidak sanggup menahan terjangan beban dan mahalnya suku cadang. Kenyataan ini pun dialami oleh PT Weha Transportasi Indonesia (WEHA).

Emiten jasa transportasi darat tersebut, seperti terungkap dari laporan keuangan per September 2015 yang diumumkan, Senin (23/11) mencatat kerugian Rp18,54 miliar pada Januari-September 2015.

Ini disebabkan oleh peningkatan beban lain-lain bersih WEHA sebesar 316,51%, dari Rp5,39 miliar menjadi Rp22,45 miliar per September 2015. Per September 2014, WEHA masih membukukan laba Rp1,32 miliar (Rp1,53 per saham).

Bukan hanya beban yang meningkat, pendapatan WEHA pun terpangkas 25,77% menjadi Rp120,95 miliar pada Januari-September 2015, dibandingkan Rp162,95 miliar per September 2014.

Penurunan pendapatan disertai berkurangnya bebak pokok penjualan sebesar 23,15% menjadi Rp84,44 miliar per September 2015. Akan tetapi, laba kotor WEHA anjlok 31,22% menjadi Rp36,51 miliar per September 2015, dari Rp53,08 miliar.

Manajemen perseroan berhasil memangkas beban usaha hingga berkurang 16,6% menjadi Rp37,43 miliar. Meski demikian, WEHA tetap menderita rugi usaha sebesar Rp918 juta.

Padahal per September 2014, emiten jasa transportasi darat beraset Rp390,18 miliar per September 2015 itu masih membukukan laba usaha sebesar Rp8,20 miliar.

Kerugian yang dialami perseroan ternyata ikut berimbas negatof terhadap harga saham WEHA di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada periode 2 Januari sampai dengan 20 November 2015, saham WEHA turun 32,38%, dari Rp247 per unit menjadi Rp167 per unit. Pada perdagangan sesi II, Senin (23/11) saham WEHA tercatat Rp167 per unit.