Tertinggi Sepanjang Sejarah, Dividen BUMN Tahun 2023 Bakal Tembus Rp80,6 Triliun

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan, bahwa seluruh perusahaan milik negara yang berada di bawah pengelolaannya catat pendapatan sebesar Rp1.389 triliun pada semester I 2023, meningkat 2,2% jika dibanding pendapatan seluruh BUMN di semester I 2022.

Peningkatan pendapatan ini mendorong laba bersihnya mencapai Rp184 triliun pada semester pertama tahun ini.

Menteri BUMN, Erick Thohir menjelaskan, perusahaan-perusahaan yang berada di bawah pengelolaan Kementerian BUMN sudah semakin sehat, tangguh, dan kompetitif.

Asetnya pun terus bertumbuh.

“Sekarang, BUMN semakin sehat, tangguh, dan kompetitif. Di semester pertama tahun 2023 ini, aset kita Rp 9.842 triliun naik 3,9% year on year, dan laba bersih Rp 184 triliun, naik 13% year on year," kata Erick dalam keterangan tertulis, Rabu (25/10/2023).

Lebih lanjut, Erick mengatakan, dirinya optimistis bahwa BUMN mampu menyetorkan dividen Rp 80,6 triliun.

Angka ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya (2022) yang tercatat sebesar Rp 80,2 triliun.

"Dan menjadi yang terbesar dalam sepanjang sejarah Kementerian BUMN,” ujarnya.

Dijelaskannya lagi, laba bersih tersebut bersumber dari peningkatan Pendapatan Usaha BUMN paruh pertama tahun 2023 (1H-23) sebesar Rp 1.389 triliun atau naik 2,2% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Pendapatan BUMN ini memang terus tumbuh.

Sebelumnya, sepanjang tahun 2021 mencapai Rp 2.292 triliun, lalu tumbuh menjadi Rp 2.916 triliun pada tahun 2022, atau naik 27,2% yoy.

Sementara itu, kontribusi BUMN terhadap perekonomian pun menunjukkan peningkatan.

Belanja Modal (capex) BUMN pada paruh pertama 2023 mencapai Rp 118,6 triliun atau naik sebesar 47,3% jika dibandingkan dengan Semester-I 2022 yang mencapai Rp 80,55 triliun.

Peningkatan capex BUMN tersebut tidak lepas dari kebijakan BUMN dalam memprioritaskan program-program strategis.

BUMN juga fokus pada berbagai program restrukturisasi agar perusahaan negara ini dapat menjalankan usahanya dengan efektif dan efisien.

"Seiring dengan pemulihan ekonomi, kinerja BUMN juga terus meningkat secara signifikan," kata Erick Thohir.

Berbagai aktivitas bisnis yang positif itu mengantarkan perolehan ekuitas seluruh BUMN ke angka Rp 3.101 triliun pada tahun 2022 atau tumbuh 11,6% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2.778 triliun.

"Mayoritas BUMN juga sudah jauh meninggalkan zona dominasi utang dalam pengelolaan keuangannya, atau sehat. BUMN telah menurunkan tingkat utang dibanding investasi tertanam dari 36,2% pada tahun 2021, menjadi 34,9% pada tahun 2022," ungkap Erick.

Raihan tersebut, ujar Erick, membuat BUMN tangguh dengan aset yang tumbuh dari Rp 8.978 triliun pada tahun 2021 menjadi Rp 9.789 triliun pada tahun 2022.